やしろあず記~年末年始編~ 【やしろあずきマンガ日記集】
30
Tanggal posting: 2025.12.02

Deskripsi karya

やしろあずきがインターネットで描いている漫画をまとめてこう…こうしてこうやってまとめたお得なまとめ本です!

Komentar

0

Dialog dalam karya ini

Halaman 1

  • Catatan Yashiro Azuki
  • 〜Edisi Akhir Tahun & Awal Tahun〜
  • Makin besar saisen-nya, makin besar kemungkinan doanya terkabul! Makanya aku masukin 10.000 yen.
  • Pasti bohong.
  • Uchiyamada, si jenius kelas yang salah memasukkan 10.000 yen ke kotak saisen, padahal niatnya 1.000 yen.

Halaman 2

  • Kenangan tentang Ibu dan Sinterklas
  • Oktober...
  • Wah, sebentar lagi Natal, ya...
  • Perasaan waktumu nggak salah, kan?
  • Waktu kecil, aku juga sudah menantikan Natal sejak saat-saat seperti ini.
  • Kamu harus minta hadiah yang kamu mau ke Sinterklas, lho!!
  • Iya, ya... ada set Lego yang besar banget, sih...
  • Harganya mahal banget, tapi kira-kira Sinterklas mau mengabulkan permintaanku nggak, ya...

Halaman 3

  • Oke!! Aku minta set Lego itu, ah.
  • Nggak mau.
  • Hah?! ...Kenapa Ibu yang bilang begitu?
  • Ya soalnya Ibu temenan sama Sinterklas.
  • Kemarin kami baru foto purikura berdua dan makan parfait.
  • Bohong!
  • O-Oh, begitu... hebat...

Halaman 4

  • Tapi, kan, Ibu nggak menelepon atau apa, kok bisa langsung bilang nggak mau...
  • Itu niatan kuat!! Niatan kuat yang bilang kalau dia benci banget sama hadiah itu, sampai-sampai nggak mau memberikannya padamu biarpun harus mati.
  • Niatan kuat yang terlalu kuat itu terkirim dari Sinterklas ke Ibu.
  • Oh, gitu... segitunya dia nggak suka, ya...
  • Betul!! Saking kuatnya niatan itu, peluru Ibu sampai mau pecah.
  • Sebentar lagi mati.
  • Mati...?! Ya sudah, aku nggak jadi minta, deh...

Halaman 5

  • Hari Natal
  • Asyiiik! Set Lego!
  • Set Tahi
  • Tapi, kenapa... padahal Sinterklas kelihatannya nggak suka banget sama permintaan itu...
  • Yah... mungkin dia cuma ingin melihat wajah gembira seorang anak...
  • Terima kasih, Sinterklas.
  • Terima kasih, Ibu.

Halaman 6

  • Kisah Kabur dari Rumah Setelah Bertengkar dengan Orang Tua di Hari Natal
  • Waktu kecil, aku bertengkar hebat dengan ibuku di hari Natal.
  • Kurang ajar!
  • Jangan pakai pohon Natal sebagai senjata!
  • Lalu aku memutuskan untuk kabur dari rumah.
  • Sialan... tapi kabur dari rumah sendirian pas Natal itu payah banget... ah!
  • Kalau aku bilang punya pacar, kedengarannya keren, kan?

Halaman 7

  • Jadi gitu, sebenarnya gue punya pacar, lhooo-- gue mau merayakan Natal di rumahnyaaa!
  • Oh, begitu.
  • Serius, lho, ini pacarku. Dia beneran ada, serius.
  • Oh, begitu.
  • Halo, Nami?! Gue mau ke sana sekarang, yaa! (Telepon bohong-bohongan)
  • Ada email masuk.
  • Ada email masuk pas kamu lagi telepon, lho.
  • HP zaman sekarang memang ada yang begitu!!

Halaman 8

  • Burger 120 Yen
  • 100
  • McDonald's

Halaman 9

  • Di luar dingin, kan? Kamu pasti mau makan sup dan ayam di rumah!!
  • Iya... maafkan aku... anu...
  • Sebenarnya aku nggak punya pacar...
  • Aku tahu.

Halaman 10

  • Akibat Mengetahui Kalau Sinterklas Adalah Orang Tua
  • Yashiro yang mengetahui kalau Sinterklas adalah orang tuanya.
  • Sinterklas itu Ayah dan Ibu, kan, ruoooooh~~!! Aku tahu, lho, ooooh~~!!
  • Sinterklas itu ada, kok!!
  • Nggak adaaa, uwoooh~ ngaku saja, deeeh!
  • Sinterklas itu ada, kok!!
  • Kalau begitu, di Natal berikutnya akan kutunjukkan Sinterklas padamu!! Cukup, kan?!
  • Oke! Aku serius, lho.
  • Hari Natal
  • Sudah waktunya makan...

Halaman 11

  • Hhh... kenapa aku harus melakukan hal seperti ini... dasar...
  • Sialan!!
  • Ada om-om nggak dikenal di rumah.
  • Dia bawa semacam tongkat.
  • Hii... mana kelihatannya marah banget lagi, seram!
  • Aku berhasil dibuat mati ketakutan oleh strategi asal-asalan mereka, yaitu mendandani kerabat (yang lagi bad mood) yang tidak kuingat dengan kostum Sinterklas dan menaruhnya di rumah.
  • Aku benar-benar bingung harus panggil polisi atau tidak.

Halaman 12

  • Kebenaran di Balik Urusan Sinterklas Modern
  • Sinterklas, sosok yang sering menjadi topik pembicaraan menjelang Natal.
  • Mongolian Death Saburo, ada untuk mengisi ruang kosong.
  • Kurasa waktu kecil, sampai umur tertentu, aku benar-benar percaya akan keberadaannya.
  • Mungkin ada juga orang tua yang berusaha agar anaknya tidak menyadari bahwa Sinterklas = orang tua.
  • Kelihatannya sebal banget.
  • Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, mati aku!
  • Insiden di mana ibuku menyuruh kerabat tak dikenal memakai kostum Sinterklas dan menaruhnya di kamar masih tak bisa kulupakan sampai sekarang.

Halaman 13

  • Kumpul keluarga menjelang Natal.
  • Oh iya, sebentar lagi Natal, ya.
  • Kalian mau hadiah apa?
  • Mereka juga suatu saat nanti akan tahu kalau Sinterklas adalah orang tua mereka dan pasti akan sedikit syok...
  • Tapi, aku ingin mereka menghargai 'hati yang percaya' itu sebagai perasaan yang hanya dimiliki oleh anak-anak...!!

Halaman 14

  • Iya, kan? Kalau jadi anak baik, nanti Sinterklas pasti datang, kok.
  • Aku juga waktu kecil suka menulis surat untuk Sinterklas, lho.
  • Eh? Ah...
  • Ah, kami sudah tahu, kok, kalau Sinterklas itu orang tua.
  • Lihat di YouTube.

Halaman 15

  • Sialan kau, internet!
  • Tapi orang tua, kan, suka berusaha keras membuat kita percaya pada Sinterklas, jadi malah kita yang bingung harus bagaimana...
  • Makanya di depan orang tua, aku pura-pura masih percaya, lho!!
  • Rasanya nggak enak, sih.
  • Kalau bilang tahu langsung, rasanya jadi canggung.
  • Nanti aku mau bilang lewat email.
  • Wah, kalian bisa baca situasi, ya. Benar-benar hebat.

Halaman 16

  • Kisah Saat Aku Menjadi Sinterklas
  • Kurasa semua orang pernah mengagumi Sinterklas.
  • Dulu aku juga pernah kepikiran ingin jadi Sinterklas, lho.
  • Aku sampai mencari tahu apa ada lembaga pendidikannya atau tidak.
  • Mongolian Death Saburo, ada untuk mengisi ruang kosong.
  • Baik, kali ini dalam kegiatan sukarela sekolah, kalian semua akan menjadi Sinterklas.
  • Kalian akan berinteraksi dengan anak-anak TK.
  • Ooooooooooooooh, aku bisa jadi Sinterklas!

Halaman 17

  • Lalu, tibalah harinya.
  • Halo semua~ Kakak Sinterklas datang, lho~
  • Aku akan menghabiskan waktu penuh cinta dan damai bersama anak-anak~~
  • KYAAAAAAAHH, HADIAAAAT!
  • SANTA! NATAL KYAAAA!

Halaman 18

  • Cinta dan damai...
  • A...
  • Kalau kalian semua berbaris dengan rapi, akan kuberi hadiah... Gwaaaaaaaah!
  • Uwaah, senpai!
  • KISYAAAAAAAAAAAH!

Halaman 19

  • Hei, kamu!! Ayunkan kantong hadiah itu dan jaga jarak dari mereka!
  • Apa maksudmu?
  • Kalau bengong, kamu bisa mati, lho.
  • Mati...?! Apa maksudmu?
  • Ini bukan Sinterklas!
  • Aku nggak mau mainan ini, ganti!
  • Setelah ini, aku terluka karena dilempar mainan Gundam.

Halaman 20

  • Uchiyamada-kun si Jenius Kelas dan Saisen
  • Saat SD, di awal tahun, aku selalu didampingi orang tua.
  • Kamu mau kasih saisen berapa?
  • 50 yen, mungkin.
  • Aku sering pergi ke kuil bersama teman-teman sekelasku.
  • Hei... kita, kan, baru dapat angpau, bagaimana kalau kita masukkan 1.000 yen...?
  • Hah!?
  • Soalnya, kalau kita masukkan 1.000 yen, berkah seperti apa yang akan kita dapat... apa kamu nggak penasaran?

Halaman 21

  • Sebagai anak SD, dengan nekat memasukkan uang 1.000 yen.
  • Waaah! Aku mau Blue-Eyes!
  • Kumohon, semoga nilai matematika Ayumi (rapor) dapat nilai tertinggi.
  • Eh, tunggu sebentar. Coba lihat itu.
  • Uchiyamada-kun, si jenius kelas.
  • Uchiyamada-kun, kamu memasukkan uang 10.000 yen?!

Halaman 22

  • Uchiyamada-kun, kenapa...!?
  • Ja-jangan-jangan kamu salah ambil, harusnya 1.000 yen!?
  • Kalau kamu masukkan 10.000 yen, angpaumu bisa...
  • He he... tenang saja. Aku sengaja memasukkannya.
  • Kalau memasukkan 10.000 yen, berkah level apa yang akan didapat... akan kubuktikan untukmu...
  • Ke-keren! Hebat sekali, Uchiyamada-kun!

Halaman 23

  • Hebat sekali... ah!
  • Kami yang sebagai anak SD bisa memahami situasinya,
  • Uchiyamada-kun, aku traktir jus, ya.
  • Iya...
  • Mau minum amazake? Uchiyamada-kun...
  • bersikap sangat baik pada Uchiyamada-kun yang telah kehilangan angpaunya.
  • Iya...

Halaman 24

  • Kenangan tentang Rapor yang Tak Ingin Kuperlihatkan pada Orang Tua
  • Salah satu acara paling menakutkan saat masa kecil adalah
  • Uuuhm, kali ini nilaiku agak jelek...
  • Gimana, ya, ini...
  • Tenang saja!!
  • hari di mana aku harus menunjukkan rapor pada orang tua.
  • U... Uchiyamada-kun!
  • Menakutkan karena orang tua akan melihat rapor itu dengan saksama... kalau begitu, kita balik saja keadaannya dan 'jangan biarkan mereka melihatnya dengan saksama'.
  • Lalu, angka-angka di dalamnya juga bisa diubah dengan mudah hanya dengan sedikit tambahan.
  • Bohong!?
  • Uchiyamada-kun, si jenius kelas.

Halaman 25

  • Misalnya, angka 3 ini...
  • Jadi begini!!
  • Uwooooooooooh, hebat sekali, Uchiyamada-kun!
  • I-ini... kalau aku tunjukkan rapornya dengan cepat, sepertinya tidak akan ketahuan...
  • Yamaoka-kun, si orang waras di kelas.
  • Nggak, itu sih pasti ketahuan.
  • Nggak, itu sih pasti ketahuan.
  • Hmm... perlihatkan sekilas saja, lho...!!
  • Oke!!

Halaman 26

  • Setelah pulang.
  • Iya, Bu, aku sudah dapat rapor, nih, kulihatkan, ya.
  • Iya, selesai.
  • Nggak kelihatan!! Perlihatkan yang benar!!
  • Uwaah, jangan dilihat lekat-lekat.
  • Kalau dilihat lekat-lekat nanti meledak, lho.
  • Nggak akan meledak.

Halaman 27

  • Jangan mencoret-coret rapor!
  • Habisnya, Uchiyamada-kun yang...
  • Jangan menyalahkan orang lain!
  • Keesokan harinya, Uchiyamada-kun tidak masuk sekolah. Yamaoka-kun selamat.

Halaman 28

  • Uchiyamada-kun si Jenius Kelas dan Malam Tahun Baru
  • Saat SD, ketika aku bertemu teman di kuil pada malam tahun baru.
  • Wah~ seru juga, ya, bisa bertemu teman-teman di tengah malam begini, rasanya spesial.
  • Tapi, kan, cuma kita saja, jadi aku nggak tahu aturan berdoanya, agak seram juga...
  • Huh... apa kau cemas berdoa hanya dengan anak-anak saja...?
  • Uchiyamada-kun, si jenius kelas.
  • Kalau kau serahkan padaku, tidak akan ada masalah sama sekali...!!
  • U... Uchiyamada-kun!? Asyiiik!!

Halaman 29

  • Kebanyakan orang di sini dewasa. Dengan mengikuti mereka dan melakukan hal yang sama...
  • kita bisa berdoa tanpa membuat kesalahan... begitu!
  • Begitu, ya, hebat sekali!! Air ini, seingatku untuk cuci tangan...
  • Waaah~~ dingiiiin!! Sialan, dingin bangeeet!!
  • Se-
  • Eeeh~~

Halaman 30

  • A... apa cara itu benar...? Uchiyamada-kun...
  • Eh... yah, itu... tergantung orangnya... kan...?
  • Ada juga cara yang seperti itu... ya...
  • Ayo, lupakan yang tadi dan kita berdoa! Lihat orang dewasa baik-baik!!
  • Menurut informasi yang kuketahui, pertama-tama kita membungkuk sekali...

Halaman 31

  • WIIIA
  • Aah~ dingin.
  • CUIH
  • ... Itu apa?

Halaman 32

  • Yah... orang dewasa, kan, kadang... nggak punya banyak waktu...? Lagian, nggak semua orang dewasa juga menaati peraturan.
  • ...Curang, tahu... orang dewasa itu...
  • Ada apa, Uchiyamada-kun?

Halaman 33

  • Kenangan tentang Buku Panduan Game Bekas
  • Waktu aku kecil, ada banyak sekali buku panduan game yang dirilis untuk satu judul game, tidak seperti sekarang.
  • Heeeh, jadi ini game yang baru rilis kemarin, yaaa...
  • Trik untuk merengek minta dibelikan game ke ibu dengan cara membeli buku panduannya terlebih dahulu.
  • Bukan cuma main gamenya, melihat-lihat buku panduannya saja sudah menjadi salah satu kesenangan tersendiri.
  • Dulu semua orang beli, ya...
  • Famitsu, Ultimania
  • Tapi, buku panduan game harganya lumayan mahal untuk dibeli dengan uang jajan, jadi
  • Aah, apa ini?
  • aku terkadang membelinya dalam kondisi bekas...
  • Monster Seals

Halaman 34

  • Buku panduan game bekas yang kubeli sering kali ada coretan atau catatan dari pemilik sebelumnya.
  • Daftar Senjata
  • Buku panduannya dicoret-coret.
  • Gara-gara itu, aku juga pernah diinterogasi oleh ibuku.
  • Kamu sengaja mencoret-coretnya sendiri supaya dibelikan yang baru, kan?
  • Bukan, Bu...
  • Lalu, siapa yang kemarin menggambar Gundam di kaca pakai lipstik Ibu?
  • Itu bukan Gundam, tapi Zaku...

Halaman 35

  • Buku panduan game zaman dulu juga sering berisi informasi bohong.
  • Tentu saja tidak semuanya coretan jahat, ada juga yang memberikan informasi tambahan tentang cara menyelesaikan game,
  • Item Tersembunyi
  • dan banyak juga catatan yang berguna...
  • Ini salah. Yang benar
  • Monster Warp Kematian
  • Wah, hebat. Makasih banyak...
  • Oke... akhirnya dungeon terakhir... mulai dari sini aku harus berjuang sendiri.
  • Banyak juga buku panduan yang sengaja tidak menuliskan cara menyelesaikan dungeon terakhir (apa sekarang masih banyak yang begitu, ya?).
  • Akhirnya, dungeon terakhir. Pastikan sendiri wujud asli bos terakhir dengan matamu...!!

Halaman 36

  • Aku akan berjuang...
  • Dungeon terakhir berbentuk tahi. Ini melambangkan bahwa dunia adalah tahi. Pada saat yang sama, para agen kuno yang sok keren itu semuanya sama seperti tahi. Mereka... kreatif... Bos terakhir adalah ayah si tokoh utama. by Takashi. Tahi puripuri tahi.
  • GYAAAAAAH—!! TAKASHI SIALAAAN!!
  • Berisik.
  • Habisnya, Takashi...
  • ◆Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi membeli barang bekas.

Halaman 37

  • Kisah tentang Sulitnya Merakit Perabotan
  • Aku sering belanja macam-macam di Amazon.
  • Mesin Latihan Otot
  • Meja Kaca
  • Saatnya membuka paket.
  • Cara Merakit
  • Tahi

Halaman 38

  • ...Iya. Besok saja kukerjakan.
  • Pasti nggak akan kamu kerjakan.
  • Tidak, tunggu!! Memang, sih, besok mungkin tidak akan kukerjakan... tapi dengan meletakkannya di tempat yang biasa kulewati seperti koridor ini atau
  • di balkon, sengaja kutaruh di tempat yang mengganggu, jadi mau tidak mau aku harus merakitnya.

Halaman 39

  • Aku juga sudah memikirkannya matang-matang, lho.
  • Oh, begitu, ya. Hebat!
  • Hebat, kan?
  • Oh, begitu, ya. Hebat! Oh, begitu, ya. Hebat!
  • Eh? BOT?
  • Beberapa bulan kemudian...
  • Cuacanya bagus, istirahat di balkon, ah!
  • Aduh, sakit!
  • Apa itu?! Musuh?!

Halaman 41

  • Eh? Itu?
  • Reruntuhan.
  • ◆Reruntuhan.

Halaman 42

  • Kenangan Bermain Hanetsuki dengan Ibu
  • Selamat Tahun Baruuuuu!!
  • Wah, hari pertama tahun baru itu suasananya khas, ya, enak sekali.
  • Oh iya... aku jadi ingat dulu kita pernah main Hanetsuki di hari pertama tahun baru.
  • Hari pertama tahun baru saat Yashiro masih kecil...
  • Aku mau main Hanetsukiii!
  • Aku lihat di TV, jadi aku mau banget main Hanetsuki.
  • Uwaah, Hanetsuki!
  • Hanetsuki, Hanetsuki, Hanetsuki!

Halaman 43

  • Mau main...? Tapi, yang kehilangan 1 poin, wajahnya akan dicoret-coret dengan tinta, lho...?
  • Nggak mau! Aturan cemen kayak gitu!
  • Kalau mau main, gue mau pertarungan serius yang taruhannya nyawa kalau kalah!
  • Begitu, ya... kalau kau memang menginginkan pertarungan seserius itu...
  • Boleh aku usulkan permainan Hanetsuki kegelapan yang sesungguhnya...?
  • He he... boleh saja! Aturan apa pun akan kuterima...!!

Halaman 44

  • Setiap kehilangan 1 poin, kita akan menulis 'kisah memalukan lawan yang tidak ingin dia ungkap' di wajahnya.
  • Hii, seram!
  • Tapi kalau aku mundur sekarang, aku bukan laki-laki! Ayo main!
  • Kalau begitu, ayo kita bertarung sungguhan dengan mempertaruhkan harga diri masing-masing.
  • Syaaa! Maju sini! Sebenarnya aku ini pro Hanetsuki, lho! (Bohong besar).

Halaman 45

  • Keesokan harinya, di taman.
  • Met taun baru~ Mohon bantuannya lagi taun ini~!!
  • Oh, Yashiro, telat banget. Ayo main kejar-kejaran... Hah?
  • Kamu ini apa? Hoichi si Tanpa Telinga??
  • Perutku sakit, aku pulang dulu.
  • Kemarin ngompol.
  • Kacamatanya gampang berembun.
  • Tahi.
  • Waktu SD.
  • Mau dres terusan.
  • Di rumah ingin dipanggil "Boku-chan".
  • Sangat percaya kalau dirinya adalah seorang ksatria.
  • Mau pulang.
  • Sebenarnya paling sayang sama ibu di seluruh dunia.
  • Sulingnya bau.

Halaman 46

  • Kisah Ibu Membeli Roomba Palsu
  • Suatu hari, tidak lama setelah robot pembersih Roomba dirilis.
  • Aku beli Roomba, lho!!
  • Bohong?!
  • Ibuku yang baru pertama kali pergi ke Akihabara karena ada urusan...
  • Aku bisa membelinya dengan harga super murah, 3.000 yen!!
  • Robot Pembersih II
  • Itu bukan Roomba!!
  • Hebat!!

Halaman 47

  • Di kotaknya juga ada penjelasannya, kok!!
  • Mesin bergerak dengan baterai. Membuat kamar bersih. Berfungsi canggih.
  • Ini jelas bukan Roomba. Tercium aroma produk daratan.
  • Pertama, tempelkan lap pembersih di perekat bagian bawah...
  • Ini bukan Roombaaaa!
  • Setelah itu, Roomba palsu yang mulai melaju kencang sambil mengeluarkan suara aneh itu menghancurkan dinding rumah (lalu dibuang).

Halaman 48

  • Kisah Ibu Membeli Roomba Palsu ②
  • Dulu, ibuku pernah membeli Roomba palsu di Akihabara!
  • Mesin bergerak dengan baterai. Membuat kamar bersih. Berfungsi canggih.
  • ...tapi...
  • Datang lagi.
  • Ini Roomba yang dijual seharga 2.400 yen, lho.
  • Mesin Otomatis. Full Otomatis. Hebat.
  • Mesin Otomatis 200.
  • Ini bukan Roomba.

Halaman 49

  • Tenang, tenang. Lihat, buku panduannya juga ada, kok.
  • Buku Panduan
  • Dengan memakai pembersih maren ini, kamar menjadi bersih. Cara pakai mudah, nyalakan power mesin.
  • ① Sensor di sudut kamar akan terhubung dan menjaga keamanan.
  • ② Jika kain pembersih habis, pasang pengganti di bawah.
  • Nggak ada.
  • Pertama, nyalakan sakelarnya...
  • Sakelarnya saja sudah kelihatan murahan...
  • Ada sensornya, jadi dia bisa menghindari orang dengan baik.

Halaman 50

  • Gyaaa!
  • Gyaaaaaaaah! Aaaah, kakikuuu!
  • Loh... aneh, ya. Oh, begitu, sakelarnya...
  • ...Dengan begini, sensornya pasti sudah menyala.

Halaman 51

  • Aaaaaaaaaah, kakiku!
  • Dengan begini, performa aslinya akan keluar.
  • Aaaah!
  • Kubuang.