#プロジェクトAC
14
Tanggal posting: 2026.08.29
Deskripsi karya
過去にジャンプ+に掲載した読み切りです。
https://shonenjumpplus.com/episode/3269754496389553649
Dialog dalam karya ini
Halaman 1
- Upacara Penerimaan Siswa Baru
- Manusia itu sepertinya selalu berharap untuk diakui oleh orang lain.
- Seorang psikolog terkenal...
- Hasrat untuk Diakui
- ...menamainya begitu.
- Kesan pertamaku saat melihatnya di upacara penerimaan siswa baru adalah...
Halaman 2
- ...dia seperti perwujudan 'Hasrat untuk Diakui' yang mengenakan pakaian.
Halaman 4
- "unsugar-sensei, terima kasih atas naskahnya kali ini."
- Karyamu dapat reputasi bagus di kalangan editor, lho.
- Ah, tidak...
- Saya masih jauh dari kata mahir...
- Ilustrator Siswa SMA Aktif
- Andou Touri
Halaman 5
- Maaf, ya, sudah merepotkanmu mampir sepulang sekolah.
- Tidak apa-apa, kok. Lagipula aku tidak ikut klub.
- Ini soal desain karakter untuk karya baru.
- Penulis aslinya bilang dia ingin karakter yang sedikit lebih kuat kepribadiannya.
- Kepribadian... ya?
- Maaf, tapi bisa tolong tunjukkan beberapa pola lagi?
- Oh, dan jangan ragu untuk menggambar ekspresinya dengan lebih bebas, ya.
- Baik, saya mengerti... Akan saya coba lagi.
- Catat, catat.
Halaman 6
- Jangan kecewa begitu.
- Lain kali kita pasti berhasil!
- Mau minum sesuatu!?
- Sensei yang ini memang rewel, tapi kemampuannya tidak diragukan lagi.
- Kalau begitu, saya pamit dulu...
- Saya langsung pulang saja, tidak apa-apa...
- "Dengan kemampuanmu, seharusnya followermu di medsos bisa lebih banyak lagi, jadi coba lebih aktif di sana."
- "Aku berharap banyak padamu," katanya.
- Dari kepala editor.
- ......Akan saya usahakan.
Halaman 7
- Haaah...
- Meskipun aku bilang akan berusaha...
- Keesokan Harinya
- Aku benci menonjol.
- Kalau orang menonjol, mereka akan terseret ke dalam berbagai masalah.
- Akunku juga hampir sepenuhnya untuk urusan pekerjaan.
- Memangnya ada orang yang suka masalah?
- Makanya, di sekolah aku tidak pernah memberitahu siapa pun soal pekerjaanku.
- Dan tidak akan pernah memberitahunya.
Halaman 8
- Ruang Seni
- Hari ini kita akan melanjutkan sketsa potret diri dari minggu lalu.
- Potret Diri
- Bagian wajah yang kalian suka, dan bagian yang kalian benci.
- Gambarlah secara objektif tanpa menyembunyikan apa pun.
- Ayo, mulai, mulai!
- Makanya, di depan orang lain, aku tidak menggambar dengan terlalu bagus ataupun terlalu jelek.
- Aku menggambar dengan tingkat penyelesaian yang sedang-sedang saja agar tidak menonjol.
- Dengan begitu, aku tidak akan terseret ke dalam masalah...
- !
Halaman 9
- Kamu lagi...
- Kurisaki Yui...!
- Ooba Leia
- Warna rambutnya masih sama saja!?
- ? Ini Freshlight Milky Pink, lho?
- Itulah kenapa aku tidak bisa mengerti orang ini.
- Aku tidak bertanya nama warnanya...!
Halaman 10
- Apa kamu lupa aku sudah menyuruhmu mengecat rambutmu jadi hitam untuk pertemuan berikutnya...?
- Bapak memang bilang begitu, tapi karena tidak tertulis di peraturan sekolah, jadi aku abaikan saja.
- Itu, kan, sudah jadi akal sehat.
- Tidak boleh mengecat rambut untuk datang ke tempat suci untuk belajar itu...
- Hmm...
- ...berarti Bapak juga, kan?
- Hah...?
Halaman 11
- Kurisaki-san... Apa yang kamu bicarakan...?
- Hmm, benar saja, tercium aroma cat rambut.
- Lagipula, kilau rambut Bapak... agak tidak alami, lho.
- !
- Justru Bapak yang menyemir uban untuk ke sekolah itu yang keterlaluan, bukan?
Halaman 12
- Ugh... Sisa waktunya belajar mandiri!
- Yang sudah selesai, kumpulkan di depan!
- Baik~
- Dasar orang bodoh...
Halaman 13
- Memusuhi guru tidak akan membawa hasil yang baik.
- Dia tidak sadar kalau perkataannya itu pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri...
- Dihukum...
- ...ya?
- Benar.
Halaman 14
- Aku menyuruhmu menggambar "potret diri".
- Ini lebih mirip potret orang lain daripada potret diri...
- Jadi, gambar ulang.
- Eeeh, padahal yang ini lebih imut~
- Nah, kan.
- Dan Andou, kamu juga dihukum.
- Hah?
- Kelihatan sekali kamu menggambarnya asal-asalan.
- Sial... Guru seni ini...
- ...ternyata dia tahu juga.
Halaman 15
- Mohon bantuannya~
- ......
- Hmm, bagian sini lebih baik begini...
- Ah, begitu ya.
- Hmm, hmm, begitu, ya~
Halaman 16
- Anu...
- Bisa tolong diam sedikit...?
- Ah, maaf.
- Sepertinya kalau aku sedang fokus, aku jadi suka bicara sendiri~
- Benar-benar orang aneh...
- !
Halaman 17
- Apa... itu...?
- Oh, ini?
- Aku ingin potret diriku juga terlihat imut, sih~
- Jadi kupikir, kenapa tidak pakai kosmetik yang sudah tidak terpakai saja.
- Idenya... orisinal sekali...!
- Gimana? Imut, kan?
Halaman 18
- Memang sih, kelihatannya jadi lebih imut...
- Kalau begini, pasti akan lebih menonjol saat dipajang, kan?
- Jadi pada akhirnya itu tujuanmu, ya...!
- .........
- Kenapa kamu begitu ingin menonjol?
- Hm?
Halaman 19
- Dengan rambut dan sikap seperti itu,
- Kamu melakukan hal-hal seperti itu, makanya guru jadi mengincarmu dan kamu berakhir dengan hukuman tidak berguna seperti ini, kan?
- Oh, begitu... Jadi karena itu guru sering menggangguku, ya...
- Harusnya sadar, dong!
- Dan jangan bilang 'diganggu'.
- Tapi, ya.
Halaman 20
- Ingin dipuji... ingin diakui itu,
- Bukankah itu hal yang wajar bagi manusia?
- Karena tidak seperti kelinci, manusia itu,
- Kalau kesepian, mereka bisa benar-benar mati.
Halaman 21
- Itu tadi cuma bercanda, kok.
- Sebenarnya aku suka menggambar.
- Maksudmu...
- Wajar, kan, kalau semua orang ingin dipuji karena melakukan hal yang disukai?
- Aku benar-benar tidak tahan dengan orang ini...
- Kalau begitu, gambarku sudah selesai, jadi aku duluan.
- Eh? Cepat sekali!
Halaman 22
- Wah, gambarmu bagus sekali, ya.
- ?!
- Ah, maaf. Apa aku membuatmu kaget? Kamu tidak apa-apa?
- Ti... tidak apa-apa, kok...
- ......Lagipula, aku ini bukan apa-apa...
- Di dunia ini, ada banyak sekali orang yang lebih jago menggambar daripadaku...
- Mana mungkin aku bisa senang begitu saja dipuji oleh orang terdekatku...
Halaman 23
- Aku... kebanyakan bicara...!
- Hah.
- Hee, banyak sekali.
- Kalau populasi dunia sekitar 7 miliar orang, dan aku di urutan ke-50.000...
- Berarti aku di peringkat 0,0007% teratas?
- Gila, kamu dewa, ya!
- Kamu harus lebih pamer lagi!!
- Orang ini bodoh atau pintar, sih...?
- Ah... terserahlah.
- Kalau begitu, aku duluan.
Halaman 24
- Haaah... aku sudah membuang-buang waktu...
- Padahal aku harus cepat pulang dan mengerjakan revisi desain karakter...
- Aku harus menyelesaikannya sebelum ditelepon untuk ditagih...
- !
- Geser ke atas untuk membuka
Halaman 25
- Ini bukan... ponselku!?
- Lagian, siapa juga yang menjadikan potret diri sebagai wallpaper!? Normalnya!?
- Sial... jangan-jangan tertukar di kelas tadi...!?
- Kalau begitu, akun Twitter yang tadi kubuka... akan ketahuan oleh Ooba...!
- Artinya, seluruh kelas akan tahu kalau aku adalah seorang ilustrator...
Halaman 26
- Eeeh, hebat!
- Hei, Andou. Kalau kamu pro, gambarkan poster festival sekolah gratis, dong.
- Aku tidak begitu paham, tapi minta tanda tangannya, dong (tertawa).
- Jadi begini akhirnya...
- Aaargh, menyebalkan sekali!
- Kumohon, semoga aku masih sempat!
Halaman 28
- Sudah lihat?
- Sudah, dong
Halaman 29
- Habislah────
- Maaf! Kukira ini ponselku, jadi pas kubuka, tidak sengaja terlihat!
- Jangan-jangan, kamu ini ilustrator profesional!?
- Apalagi followermu ada 50.000, banyak sekali!
- Selamat tinggal, kehidupan sekolahku yang damai...
- Aku baru pertama kali melihat orang terkenal!
- Oh, begitu... Ternyata ada juga orang yang bisa punya banyak penggemar hanya dengan gambar, ya...
Halaman 30
- Aargh, iya, iya, aku mengaku...!
- Sebagai gantinya, jangan beritahu siapa pun di sekolah...!
- Kenapa? Padahal lebih baik kamu pamerkan saja.
- Aku akan kerepotan kalau orang sepertimu bertambah banyak...
- Kalau begitu, sebagai gantinya, follback aku dan aku akan diam.
- Aargh, menyebalkan sekali.
- Dasar cewek gila 'Hasrat untuk Diakui' ini...!
- ...yang "penpenpoin" ini?
- Betul, betul~
- Cih, paling juga akun pribadi yang isinya cuma teman sekelas...
- Follower
- ohisama @samasama_dasada
- penpenpoin @pen_2_poin
- Touhyou Tokai Shinkun @pavonis1130
- Follow
- RORO @pavro_ronger
Halaman 31
- penpenpoin
- @pen_2_poin
- Tweet
- Tweet & balasan
- Media
- Suka
- Tweet yang disematkan
- penpenpoin @pen_2_poin
- ?!
- Akhir-akhir ini jumlah follower-ku tidak bertambah, nih.
- Apa lebih baik aku sedikit lebih ekstrem, ya?
- Ja-jangan! Nanti kamu kena ban, tahu!
Halaman 32
- Iya, kan...
- Kalau begitu...
- Menurutmu, aku bisa jadi sepertimu?
- !
- Ya... yah, kalau cuma selevel aku, sih, kurasa kamu bisa cepat mencapainya kalau berusaha...?
- Wajahmu dekat sekali...
Halaman 33
- Kamu, jadilah guru gambarku.
- Oke, sudah kuputuskan!
- Kenapa?
Halaman 34
- Kalau aku jadi profesional, banyak orang akan memujiku...
- Alasan itu saja sudah cukup, kan?
- Soalnya aku tidak menyangka, orang yang ideal untukku ternyata ada di dekatku...
- Lagipula, ada batas untuk keimutan dalam selfie, tapi kalau gambar, tidak ada batasnya.
- Jangan bilang dirimu sendiri imut.
Halaman 35
- Kalau kamu cuma bercanda, lebih baik hentikan.
- Aku serius!
- Lagipula, tadi kamu bilang, kan?
- Kalau aku berusaha, aku bisa jadi sehebat kamu.
- Serius, ya...
- Kalau begitu, aku juga harus menjawab dengan serius...
Halaman 36
- Maaf, tadi itu aku bohong.
- Hah...?
- Orang yang ingin jadi profesional hanya karena ingin dipuji itu...
- ...pasti akan cepat menyerah.
Halaman 37
- ......Apa ini benar-benar pilihan yang tepat...?
- Bagaimana kalau dia menyebarkan soal akunku karena dendam...
- Tidak, tidak apa-apa.
- Mungkin, tapi dia bukan tipe orang yang pendendam seperti itu... mungkin...
- ......
Halaman 38
- Keesokan Harinya—
- SRAK
- !
- Kemarin aku sudah bicara sekasar itu... Pasti dia sudah menyerah, kan...
Halaman 39
- Hei, Andou-kun, lihat, deh.
- Aku beli, lho♪
- iPad dan Apple Pencil.
- Gila, mentalnya kuat banget!
- Asal kamu tahu saja, ya...
- Aku tidak akan menyerah hanya karena hal sepele seperti itu.
Halaman 40
- Kalau begini...
- Aku abaikan saja!
- Hei~
- Kamu dengar tidak?
- penpenpoin Membalas ke: @unsugar Bagaimana caranya menjadi ilustrator profesional?
- Hmph.
Halaman 41
- unsugar Sensei~
- Aargh, iya, iya, aku mengerti!
- Kalau kamu memang ingin tahu, akan kuberitahu... cara menjadi profesional.
- Benarkah!?
Halaman 42
- Tapi, ada satu syarat.
- Kalau kamu memang serius, kamu harus mengunggah satu gambar buatanmu sendiri ke akunmu setiap hari.
- Kalau kamu bisa membuat gambar yang bisa kupuji, akan kuajari.
- Baiklah.
- Janji, ya.
Halaman 43
- Paling-paling ini cuma iseng.
- Dia pasti akan cepat menyerah...
- .........
Halaman 44
- Andou
- Ugh... tidak bisa...!
- Padahal tenggat waktu revisi sudah dekat, kenapa aku jadi resah begini...?
- Teman sekelasku yang juga seorang seniman akan bertambah.
- Seharusnya tidak apa-apa, kan, kalau aku mengajarinya dengan tulus?
- Apa karena dia benar-benar meremehkan dunia menggambar?
Halaman 45
- Bukan... ini cemburu.
- Aku cemburu pada gadis itu, yang bisa dengan terang-terangan mengatakan ingin dipuji.
- Bagi diriku yang tidak akan pernah bisa mengatakan hal seperti itu, aku sangat iri padanya.
- Di masyarakat ini, sehebat apa pun kamu, kalau kamu menonjol, kamu akan langsung dibilang "jangan sombong" atau "sok".
- Dia yang tidak tahu perasaan orang sepertiku mungkin adalah orang yang bahagia.
Halaman 46
- Ngomong-ngomong, sudah seminggu, ya...
- Dia pasti sudah mulai menyerah sekarang.
- ......Dasar gadis yang gigih...
- Latihan hari ini
- Membalas ke: @pen_2_poin-san Daripada ilustrasi seperti ini, aku lebih suka kamu mengunggah selfie seperti biasa.
- penpenpoin @ 21 April 2021 Membalas ke: @Sa1RxRS2y6W-san
- Berisik! Aku akan segera bisa menggambar lebih imut dari selfie-ku, jadi tetap follow dan tunggu saja!!
- sabun @mosaic... 21 April 2021 Membalas ke: @pen_2_poin-san
- !
- Memang mental baja, ya, gadis ini...
- Sementara aku malah sedang slump...
- Aku jadi ingin minta sedikit kepercayaan dirinya itu.
Halaman 47
- ......
- Mungkin hari ini aku akan begadang...
- Si Kurisaki itu... Hari ini dia tidak masuk, ya...
- Akhirnya aku bisa santai setelah sekian lama...
Halaman 48
- Andou-kun.
- Akhir-akhir ini kamu sering mengobrol dengan Ooba-san, ya?
- Sepertinya dia belum mengumpulkan formulir survei pilihan karier yang tenggatnya besok, jadi untuk jaga-jaga, bisakah kamu mengantarkannya lagi?
- Eh... kami tidak sedekat itu sampai aku tahu rumahnya, sih...
- Begitu, ya... Kalau begitu, apa kamu punya kontaknya?
- Yah, aku tahu (akun medsosnya), sih...
- Kalau begitu, tolong tanyakan alamatnya.
- Zaman sekarang, saya tidak bisa memberitahukannya.
- Gawat.
Halaman 49
- Baik, saya mengerti...
- Benar, kan, menonjol itu tidak ada untungnya...
- Oh, dan satu lagi.
- Ooba-san itu, kelihatannya saja begitu, tapi dia bukan tipe yang akrab dengan siswa tertentu.
- Jadi, Andou-kun, tolong jangan kapok dan teruslah berteman baik dengannya, ya.
- Yah, akan saya usahakan...
Halaman 50
- penpenpoin
- Guru menyuruhku mengantarkan formulir, bagaimana, ya?
- Kalau kamu tidak mau kasih tahu alamatmu juga tidak apa-apa.
- Akan lebih mudah kalau dia menolaknya saja...
- Cepat sekali!
- Andou-kun, tolong aku.
Halaman 51
- Tidak seperti kelinci, manusia itu...
- ...kalau kesepian, mereka bisa benar-benar mati.
- Aku punya firasat buruk...
Halaman 52
- Ada apa, Kurisaki!?
- Andou-kun...
Halaman 53
- Tolong... aplikasi gambarku tiba-tiba tertutup, jadi gambar yang sudah susah payah kubuat hilang...
- Ada file cadangan yang tersimpan di sini, jadi kamu bisa memulihkannya sampai tahap tertentu.
- Wah, benar! Terima kasih!!
- Tapi, aku tidak menyangka kamu akan datang dengan wajah panik seperti itu, lho.
- Itu karena kamu mengirim pesan yang membingungkan!
Halaman 54
- Kamu sampai tidak masuk sekolah untuk menggambar, apa orang tuamu tidak bilang apa-apa...?
- Ahaha, aku tinggal sendiri, jadi suka kebablasan...
- ...Berarti kamu tinggal sendirian di sini...?
- Iya, kedua orang tuaku sering pindah tugas, jadi mereka menyewakan tempat ini di dekat sekolah.
- Pasti berat, ya...
- Yah, anggap saja urusan keluarga!
- Lagipula, sifatku yang haus pujian ini juga bisa dibilang gara-gara orang tuaku, lho...
Halaman 55
- Begitu, ya...
- Dia benar-benar hanya ingin dipuji...
- Dia hanya menginginkan pengakuan yang mungkin tidak pernah dia dapatkan dari orang tuanya...
- Jadi, keinginannya ini adalah kebalikannya...
- Ini adalah jeritan hatinya.
Halaman 56
- Aku juga... awalnya begitu, kan?
- Aku sempat berpikir kalau menggambar hanya untuk dipuji itu adalah motivasi yang tidak murni, tapi...
- Orang yang ingin jadi profesional hanya karena ingin dipuji itu...
- Baik profesional maupun amatir, titik awalnya sama...
- Aku bisa terus menggambar karena ada yang memujiku, kan?
Halaman 57
- Maafkan aku, Kurisaki...
- Waktu itu aku bilang kamu hanya ingin dipuji...
- Aku tidak tahu kalau tidak dipuji orang tuamu sesakit itu...
- Eh...?
- Apa aku pernah bilang begitu?
Halaman 58
- Bukan... tapi tadi kamu bilang karena orang tuamu, kamu jadi tidak bisa menahan keinginan untuk dipuji...
- Memang, tapi kebalikannya.
- Orang tuaku itu orang tua bucin tingkat dewa.
- Sejak kecil, aku selalu dipuji berlebihan untuk hal apa pun.
- Mungkin itu jadi kebiasaan, ya...?
- Karena itu, sepertinya tubuhku jadi tidak bisa hidup tanpa banyak pujian...
Halaman 59
- Makanya... sepertinya aku sudah di ambang batas...
- Kamu tidak apa-apa...?
- Iya...
- Tapi, akhir-akhir ini tidak ada yang memujiku, jadi...
- Sepertinya gejala putus zat-nya mulai muncul...
- Eh, tunggu...
- Serius...?!
Halaman 60
- Ini salahku...
Halaman 61
- Aku sudah membuatnya begitu tertekan...
- Padahal aku tidak seharusnya memaksanya mengubah arah akunnya...
- Kalau sudah begini... aku tidak punya pilihan selain jujur...
- Asal kamu tahu saja...
- Ini bukan basa-basi, aku benar-benar tulus mengatakannya...
- Potret diri yang kamu gambar waktu itu...
- Sejujurnya, itu tidak jelek, kok.
Halaman 62
- Terima kasih ♡
Halaman 64
- Oke, aku jadi semangat lagi~!
- A-apa serangan gejala putus zat-mu itu sudah tidak apa-apa...!?
- !?
- Biasanya juga aku begini, kok.
- Yah, kali ini aku sedikit melebih-lebihkannya, sih ♡
- Ap...
- Tapi karena kamu sudah memujiku, berarti kamu harus menepati janjimu, kan?
- Sensei ♡
- Aku ditipu—!
Halaman 65
- Dengar, ya, saat kamu menyerah, saat itu juga aku akan berhenti!
- Akan kuberusaha~
- Haaah... kenapa juga aku bilang begitu, ya?
- Ten ten teteten teteteten♪
- Halo.
- !
Halaman 66
- Halo, unsugar-sensei? Wah, kerja bagus.
- Desain karakter untuk karya baru itu sudah dapat OK, lho.
- Syukurlah...
- Tapi, ada yang ingin kubicarakan sedikit.
- Soal karakter figuran yang kamu serahkan bersamaan itu...
- Ada permintaan dari penulisnya soal karakter ini—
- Maaf! Apa gambarnya aneh?! Akan saya gambar ulang sekarang juga...!
- Sial, aku menggambarnya saat sudah mengantuk semalam, jadi aku tidak ingat seperti apa gambarnya...!
- Bukan, bukan itu masalahnya.
- Penulis aslinya sangat menyukai salah satu dari mereka.
- !
Halaman 67
- Kami memutuskan untuk menjadikan karakter yang kamu kirim lewat email itu sebagai heroine, jadi mohon bantuannya.
- Se... serius?
- Terlampir ...sedang berlangsung Selesai Tulis Kategori Kotak Masuk Catatan Pribadi Lihat selengkapnya
Halaman 68
- Beberapa Tahun Kemudian—
- Tidak perlu repot-repot menontonnya secara real-time, kan.
- Biarin, dong. Ini, kan, panggung besar pertama kita berdua.
- Lagipula, kamu harus berterima kasih, lho?
- Bisa dibilang, berkat akulah kamu jadi populer.
- Mana mungkin. Itu karena penulis aslinya memang berbakat.
- Heeh, sekarang kamu sudah berani bicara begitu, ya~
Halaman 69
- Kalau begitu, kenapa desain karakternya mirip sekali denganku, ya?
- I-itu... bukannya sudah mau mulai acaranya?
- Oh, iya! Channel berapa, ya?!
- Err... seingatku MX.
- Remote, remote!
- Ah.
- Sudah mulai.
Komentar
0