Deskripsi karya
Dialog dalam karya ini
Halaman 1
- Ayahku dulu adalah eksekutif di perusahaan besar dan sangat keras padaku...
- Hei TATSUYA! Apa ini nilai-nilai di rapormu? Belajar sana!!
- Bahkan setelah gagal ujian masuk SMA...!! Kamu harus berusaha lebih keras atau kamu tidak akan bisa bersaing dengan yang lain.
- Kamu mau jadi pengangguran? Kalau begini terus, kamu tidak akan bisa dapat pekerjaan dan jadi pecundang!
- Anak-anak eksekutif lain semua berprestasi, hanya kita yang seperti ini!! Memalukan sekali...
- Maaf...
Halaman 2
- Whoa, siapa kamu!?
- Heh, jadi sekarang kamu anggap ayahmu yang pengangguran ini orang asing?
- Ayah!? Apa!?
- Ayah... dipecat dari pekerjaannya.
- Bukan itu masalahnya, lihat cermin dulu!
- Oh, ini... karena shock dipecat... Eh, apa maksudmu dengan "bukan itu masalahnya"!?
- Eh!?
Halaman 3
- Ayahku adalah seorang yang sangat berdedikasi, bahkan mengenakan setelan kerja hingga sebelum tidur...
- TATSUYA!! Daripada tidur siang, lebih baik kamu baca buku!
- Sementara kamu bermalas-malasan, orang-orang yang lebih pintar terus belajar dan mengasah kemampuan mereka.
- Kesenjangan akan terus melebar dan tidak akan pernah bisa kamu tutup.
- Jangan harap aku akan menolongmu kalau nanti kamu menyesal!
Halaman 4
- Dan sekarang, lihatlah apa yang terjadi...
- Sudah jam segini... Aku tidur seharian lagi.
- Aku pulan... eh!?
- Ugh TATSUYA... Jangan marah, ya.
- Aku tahu ini bukan saatnya untuk merajuk.
- Bukan itu maksudku!
- Ya, aku mengerti... Aku memang gagal sebagai ayah.
- Kalau begini terus, aku tidak akan pernah bisa berubah.
- TATSUYA... tolong pukul aku, sekeras yang kamu bisa.
- Tidak, tidak, tidak, pakai baju yang lebih pantas dulu!!
Halaman 5
- Ayahku dulu adalah orang yang selalu merasa lebih baik dariku.
- TATSUYA! Kalau kamu laki-laki, buktikan kalau kamu bisa mandiri!
- Tapi dengan nilai sepertimu, itu pasti mustahil!!
- Tidak, gara-gara kamu aku tidak pernah merasa nyaman tinggal di rumah ini.
Halaman 6
- Dan sekarang, lihatlah keadaannya...
- Siapa sangka kita harus pindah ke apartemen sekecil ini...
- Bahkan membayar sewa apartemen ini saja mungkin sulit.
- Maafkan aku, TATSUYA...
- Tidak apa-apa, aku bisa kerja paruh waktu...
- A...apa kamu yakin, TATSUYA?
- Sebenarnya, aku lebih nyaman di sini.
Halaman 7
- Ayahku selalu merasa lebih baik dalam segala hal.
- TATSUYA, belajarlah untuk mengerti rasa minuman keras!
- Aku hanya minum anggur vintage dari Prancis.
- Aku tidak tahu dan juga tidak peduli.
Halaman 8
- Bukannya kamu cuma minum yang dari Prancis?
- Lagipula, apa tidak apa-apa minum alkohol dengan tubuh seperti itu?
- Setelah itu, menjaganya jadi sangat merepotkan.
Halaman 9
- Karena ayah tidak bisa bekerja lagi,
- Lihat, kan? Kamu belum makan apa-apa sejak kemarin, kan?
- Uh...
- Karena... orang yang tidak bekerja tidak boleh makan...
- Yah, kalau kamu pasang muka seperti itu, jadi canggung, tahu.
- Kalau begitu beri aku pekerjaan! Aku akan melakukan apa saja!
Halaman 10
- Hah... tak kusangka aku harus makan gratis...
- Apalagi menerima bantuan dari anakku sendiri...
- Kenapa sekarang? Padahal kemarin kamu bilang ingin dipukul.
- Ah... saat itu aku terkejut karena dikhianati teman seperjuangan...
- Aku nggak terlalu paham, tapi setidaknya kamu sudah cukup pulih untuk mengeluh... mungkin?
Halaman 11
- Karena dada ayah sering terlihat...
- Ta... Tatsuya...? Kenapa mendadak beli pakaian dalam wanita...?
- Aku juga nggak tahu, tapi rasanya kurang pantas...
- Kau! Berani-beraninya bilang ayahmu tidak pantas!
- Memang nggak pantas! Banyak yang terlihat, tahu...!
- Na... Tatsuya, kamu...
Halaman 12
- Sungguh... ada-ada saja memikirkan tubuh ayahnya sendiri.
- Aku nggak memikirkannya! Jangan ganti baju di sini!!
- Tapi kamu memikirkannya, kan? Ini satu-satunya ruangan.
- Apa? Menyusun bentuk dada dari bawah ketiak?
- Ugh! A... Aku mau jalan-jalan, ganti baju dulu ya!
Halaman 13
- Karena pakaian ayah yang seperti itu,
- Kenapa, Tatsuya? Kamu memikirkanku lagi?
- Bukan, maksudku, secara umum pakaianmu itu aneh!
- Aku nggak mungkin memikirkanmu! Kamu ayah kandungku!?
- Itu pilihan paling nggak masuk akal di seluruh umat manusia!!
Halaman 14
- Ta... tak perlu sampai berkata begitu juga.
- Eh...? Kenapa jadi sedih begitu?
- Kamu kan bilang ingin diberi pekerjaan.
- Kalau begitu, kamu nggak bisa keluar, kan? Lagipula belum ada tanda-tanda kembali normal...
- Aku akan belikan baju, jadi carilah pekerjaan sendiri.
- Oh, jadi ini semacam investasi awal.
Halaman 15
- Bagaimana, Tatsuya! Dengan ini, aku bisa jalan-jalan di luar, kan?
- Pastikan simpan kuitansinya! Aku selalu membayar kembali hutangku.
- O... oke, bayar lebih ya?
- Biaya baju, makan, dan sewa... mengingatkanku pada masa-masa awal karirku.
- Tentu saja, aku akan membayar seratus kali lipat.
- Ibu yang pergi pasti akan tertawa melihat ini.
- Benarkah?
- Mungkin saja...
Halaman 16
- Saat membeli baju untuk ayah yang berubah jadi gadis cantik, aku bertemu teman sekelas.
- Pacar!? Bukan, bukan!
- Dia... sepupuku. Ada alasan kenapa dia tinggal di sini.
- Hah!? Aku sama sekali nggak senang! Dia juga nggak kerja...
- Dia cuma numpang tinggal, bikin repot saja!
Halaman 17
- Tatsuya... jadi kau memang berpikir seperti itu?
- Eh?... ah tidak.
- Seorang ayah yang tidak bisa memenuhi tugasnya tidak ada artinya. Aku juga berpikir begitu.
- Apa? Tidak, aku tidak bilang begitu...
- Tidak, ini kenyataan yang harus kuhadapi.
Halaman 18
- Aku... justru tidak suka sikapmu yang seperti itu!
- Kalau hanya mengurus dengan rasa kewajiban, lebih baik biarkan saja.
- Kau bilang demi keluarga, tapi kau tidak pernah pulang...
- Tunggu... Tatsuya?
- Ah tidak... sial... bukan apa-apa.
- Bersambung
Komentar
0