#日記
オタサーの崩壊を間近で見た話【やしろあずきマンガ日記集】
オタサーの崩壊を間近で見た話 復讐編:その7
10
Tanggal posting: 2025.09.18

Deskripsi karya

やしろあずきがインターネットで描いている漫画をまとめてこう…こうしてこうやってまとめたお得なまとめ本です!

Komentar

0

Dialog dalam karya ini

Halaman 1

  • Ringkasan chapter sebelumnya
  • Sepertinya aku sudah tidak tahan lagi.
  • Padahal... kita sudah sepakat untuk mulai menabung...
  • Dia malah beli barang-barang bermerek terus... Akhirnya kesabaranku habis dan kami bertengkar hebat...

Halaman 2

  • Lalu dia mulai memukuliku... aku pun refleks membalas... aku sampai main tangan...
  • Ternyata dia... merekamnya dengan video...
  • Kalau sampai kamu bongkar, video ini bakal kusebarin, lho.
  • ...dia bilang begitu... Ini, kan, sama saja aku juga diancam...!?

Halaman 3

  • Hmm~ kalau video itu yang jadi masalahnya, berarti cerita Hime diancam dengan kekerasan itu bohong, ya...
  • Hmm... begitu, ya...
  • Dilihat dari chat LINE-nya, Hime juga sepertinya berbohong...
  • Masih banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi yang paling penting adalah...
  • ...kamu memang datang padaku untuk jadi kaki tanganmu, tapi...
  • Jujur saja, bagaimana perasaanmu? Apa kamu mau terus-terusan begini?

Halaman 4

  • ...Ah... iya... bukan... Sebenarnya... aku ingin... bilang pada kalian semua... bukan...
  • Aku mau berhenti... Tolong aku.
  • ... Baiklah.
  • Semuanya, kumpul.

Halaman 5

  • Geng Otaku, Kumpul
  • Ringkasan chapter sebelumnya
  • Semuanya, kumpul.
  • Semuanya, terpanggil.
  • Aah~ dingin banget... Minta kopi panas, dong.
  • Aku mau sake...
  • Eh... kalian ada di sini juga? Kukira cuma Yashiro...

Halaman 6

  • Yah, maaf, aku sudah minta yang lain untuk mendengarkan juga... Kamu memang sudah melakukan hal yang keterlaluan, dan aku mau kamu menebus perbuatanmu, tapi...
  • Setelah bertahun-tahun bersama... kami semua tidak percaya kalau kamu itu orang jahat dari lubuk hatimu...
  • ...Kekerasan... membantu tindakan penipuan... Aku sadar kalau aku juga sudah tidak bisa mengendalikan diri dan melakukan hal yang salah...
  • ...Aku ingin berhenti...
  • Aku sudah lama ingin kembali ke jalan yang benar... Karena itu, aku akan bertanggung jawab, dan aku juga ingin Hime bertanggung jawab...

Halaman 7

  • Oke! Kalau begitu, hari ini pulang dan tidur saja...
  • Nanti kita akan rapat strategi lagi dengan semuanya... tapi sebelum itu,
  • Mumpung kita semua sudah lama tidak kumpul,
  • bagaimana kalau kita ngobrolin anime musim ini?
  • ...Hah?
  • Wah, musim ini genrenya beneran...
  • Lagu ending yang ada tariannya banyak banget.
  • Aku baru dari Melonbooks beli rilisan baru, nih.

Halaman 8

  • ...Kalian...
  • ...He he he.
  • Terima kasih.

Halaman 9

  • Keesokan Harinya, Rapat Strategi
  • Ringkasan chapter sebelumnya
  • Haaah, capek banget... Hari yang benar-benar padat.
  • ...Sudah, tidur saja...
  • Akhirnya kami sepakat untuk pulang dan tidur dulu.
  • Yah... sudah lama tidak kumpul dan seru-seruan ngobrol ngalor-ngidul begini...
  • ...Menyenangkan, ya... He'em...

Halaman 10

  • Lalu, keesokan harinya
  • Dengan truk,
  • kita serbu Hime!
  • Itu dia!! Hime!!
  • MAJUUU!

Halaman 11

  • H... HAUAH!!
  • Remnya blong, tidak berfungsi!!
  • UGYAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHH

Halaman 12

  • Tamat

Halaman 13

  • UWAAH, TERNYATA MIMPI.
  • Ceritanya masih berlanjut, kok!!
  • Aku terbangun setelah bermimpi seperti itu.

Halaman 14

  • Ringkasan chapter sebelumnya: Semua anggota Geng Otaku (pria) berkumpul dan...
  • mengadakan rapat strategi di rumah Yashiro...!!
  • Tapi serius, kita mau gimana? Lapor polisi?
  • Aku juga sudah memikirkan itu, sih.
  • Tapi sejauh mana mereka mau bertindak?
  • Dia, kan, jelas-jelas sudah melanggar hukum.

Halaman 15

  • Aku akan menceritakan semua yang kulakukan dan mengakui kesalahanku, tapi kalau terlalu heboh, nanti Hime bisa kabur...
  • Hmmmm... Ah! Hei, kamu tidak boleh pakai jurus chop!
  • Jangan bicara pada orang tua.
  • Ibu!?

Halaman 16

  • Lawan kalian juga punya orang tua, kan!! Biarpun sudah dewasa, orang tua tetaplah orang tua!! Mereka punya kuasa!!
  • Ibu, aku jadi tidak bisa nonton TV.
  • Diam!! Lihat Ibu!! Pertama, dengarkan dulu dari orang tuanya, setelah itu mau lapor polisi atau bagaimana, terserah kalian!!
  • Orang tua... ya... Memang benar, sih, tapi tidak ada yang tahu keluarga Hime... kan?
  • Jelas tidak tahu, lah, walaupun aku pernah pacaran dengannya.
  • Aku juga pernah pacaran dengannya, tapi... orang tua Hime... orang tuanya...

Halaman 17

  • Waktu kuliah dulu, ada 5 teman Hime di halaman Facebook yang dibuat untuk tugas.
  • Di antara mereka, ada ayahnya yang punya nama keluarga sama dengan Hime. Aku menemukannya beberapa tahun lalu, alamat dan nomor teleponnya sudah kusimpan.
  • Sudah kuduga, orang ini seram!

Halaman 18

  • Ringkasan chapter sebelumnya: Berkat saran dari sang ibu,
  • Ibu, aku jadi tidak bisa nonton TV.
  • mereka memutuskan untuk menghubungi orang tua Hime...!!
  • Facebook, ya... Apa kamu ingat namanya?
  • Tentu saja!! Hmm, kalau tidak salah... ini dia... ah, ketemu!!

Halaman 19

  • Orang ini...
  • Perkenalan Diri Yoroshiku!!
  • Orangnya seram.

Halaman 20

  • Gila, ini, sih... Kelihatannya lebih terang-terangan berbuat kriminal daripada Hime.
  • Bahaya.
  • Saya adalah teman dari putri Anda. Ada hal yang ingin saya bicarakan, jadi saya mengirimkan permintaan ini.
  • Kirim Permintaan
  • Yah, kita tidak bisa menilai orang dari penampilannya... Pokoknya, kirim permintaan pertemanan dulu...
  • Ah, sudah diterima. Nah, kan... sekarang kita bisa lihat postingan yang cuma bisa dilihat teman.
  • Anda sekarang berteman.
  • Kalau ternyata dia orang biasa, kan...

Halaman 21

  • Di laut bareng sohib lama!! Tato kami kembaran!! Hanya bisa dilihat oleh teman
  • Seramnya...

Halaman 22

  • Kami khawatir dia akan tersinggung karena tiba-tiba kami menceritakan keburukan putrinya, tapi...
  • Terima kasih sudah menghubungi saya. Saya sudah memahami situasinya. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, boleh?
  • Tentu, tidak masalah! Sebaiknya kami jawab dalam bentuk apa, ya?
  • Kalau bisa, silakan tanyakan lewat pesan.
  • Balasannya sangat sopan.
  • ...Apa kita bisa bicara langsung lewat video call...?
  • Wah, dia minta video call.
  • Ogah, ah. Aku tidak mau kelihatan muka. Gimana kalau dia beneran orang seram...

Halaman 23

  • Hei, kamu yang maju. Kamu, kan, masih pacarnya!! Ambil tanggung jawab.
  • Eh, tapi... aku belum pernah menyapa orang tuanya...
  • Di antara kita semua, dari penampilan, kamu yang paling kelihatan jago berantem!!
  • Akan kubuat kau lebih seram lagi.
  • Nah, sudah jadi. Seram, kan? Gahahahahaha.
  • Aku beneran bisa dibunuh, nih...
  • Tenang saja, begitu video call-nya nyala, jangan-jangan orangnya biasa saja, kok.

Halaman 24

  • Panggilan Video Dimulai
  • Halo, saya ayahnya Hime.
  • Ternyata di video pun seramnya tidak berkurang, ya.
  • ...Ha... halo...
  • Wah, seram sekali. Apa-apaan kamu ini?!

Halaman 25

  • Video Call dengan Orang Tua Hime
  • Ringkasan chapter sebelumnya: Panggilan video dimulai.
  • Ah... halo... maaf, muka saya lagi begini...
  • ...Tapi, begitu layar menyala...
  • Aah...
  • Oh, tidak apa-apa... Kalian benar teman-temannya Hime, ya...
  • Hah?!
  • Dulu waktu putriku pulang kampung, dia pernah menunjukkan foto kalian...

Halaman 26

  • Masalah kali ini sepertinya bisa berurusan dengan hukum, dan kebetulan saya juga akan ke Tokyo, jadi mari kita bertemu sekali...
  • Ah, bertemu dan bicara... Baik.
  • ...Jadilah kami sepakat untuk bertemu, tapi...
  • Masalahnya
  • seram banget.

Halaman 27

  • Pendapat 'jangan menilai orang dari penampilannya' itu memang benar!! Tapi, kami ini, kan, Geng Otaku.
  • Rasanya sama seperti waktu mau ketemu Hime dulu, ya, kita.
  • Aku sudah tidak mau lagi dipalak 100 ribu yen sama orang seram.
  • Dulu, kami cukup sering mengalami hal tidak menyenangkan dari orang-orang seperti itu.
  • Kamu pernah dipalak?
  • Yah, tenang saja. Selama dia tidak datang bawa teman yang seram, pasti aman, kok, wkwk.
  • Itu, sih, benar juga!!
  • Hari pertemuan...

Halaman 28

  • Permisi~...
  • Siap!!
  • Orang seramnya datang berdua.

Halaman 29

  • Ayah Hime Muncul
  • Ringkasan chapter sebelumnya: Saat bertemu langsung dengan orang tua Hime,
  • Siap!!
  • ternyata ada tambahan orang seram.
  • Tuh, kan, sudah kubilang. Senjataku cuma Umaibo, nih...
  • Standar senjatamu itu apa, sih?
  • Ah, ini adik saya.

Halaman 30

  • Hah? Adiknya...? Aku tidak tahu...
  • Oh... dia gaptek, jadi tidak main SNS... Dia tinggal di Tokyo.
  • Selama di sini, aku numpang di tempatnya... Dia juga akrab dengan putriku, jadi kuajak sekalian.
  • Setelah itu, si pacar yang berambut pirang menjelaskan situasinya secara singkat.
  • Walaupun tidak ada hubungannya sama sekali, tapi posisi duduk seperti ini benar-benar seperti sedang dipalak.

Halaman 31

  • 1 jam kemudian...
  • Fuh... Oke, saya sudah paham situasinya...
  • Pertama-tama, saya minta maaf karena putri saya sudah merepotkan kalian...
  • Karena satu dan lain hal, saya membesarkannya sendirian... Dulu dia anak yang pendiam sampai masuk kuliah, tapi setelah pindah ke Tokyo...
  • Mungkin karena pengaruh teman-temannya... Seleranya soal uang dan main-main jadi berubah, saya sempat khawatir...

Halaman 32

  • Tapi, sejujurnya, perbuatannya kali ini tidak bisa dibela... Sebagai orang tua, saya akan memberinya pelajaran.
  • Benar, Kak!!
  • ...
  • Lucu juga melihat pelayannya terus mengawasi kita, sepertinya dia khawatir kita akan mengintimidasi seseorang.

Halaman 33

  • Ringkasan chapter sebelumnya: Setelah berbicara dengan ayah Hime,
  • Fuh... Oke, saya sudah paham situasinya...
  • mereka memutuskan untuk memberi Hime pelajaran.
  • Jadi, bagaimana gaya hidup putriku sekarang?
  • Kapan dia ada waktu luang?
  • Aura mengintimidasinya kuat sekali...

Halaman 34

  • Ah, ya. Saat ini dia tidak punya pekerjaan tetap dan sepertinya hidup dari hasil penipuan yang tadi kita bicarakan... Tapi, dia juga kadang-kadang kerja sebagai admin di ●●.
  • Selain informasi itu, pada hari kerja, dia sering makan siang di restoran Tiongkok dekat sini antara jam 12 sampai 14, jadi kemungkinan waktu luangnya adalah setelah jam 15. Selain itu...
  • Apa dia ini detektif atau semacamnya?
  • Jadi, inilah rencana sederhana yang kami susun.
  • ① Pancing Hime untuk bertemu dengan alasan ingin bicara.
  • ② Semuanya muncul dan mengkonfrontasinya.

Halaman 35

  • Oke... akhirnya, semua ini akan berakhir...!!
  • ...Tapi, hei... aku mau memastikan sesuatu...
  • Kamu pasti akan putus dengan Hime, lho.
  • Soal itu... kamu sudah siap, kan?

Halaman 36

  • Eh? Hime bakal jomlo!?
  • Di saat seperti ini, kamu masih mau deketin dia...?
  • ...Aku...
  • ...Aku...