ババァに学ぶ子育ての秘訣【やしろあずきマンガ日記集】
ババァに学ぶ子育ての秘訣:その1
64
Tanggal posting: 2025.08.25

Deskripsi karya

やしろあずきがインターネットで描いている漫画をまとめてこう…こうしてこうやってまとめたお得なまとめ本です!

Komentar

0

Dialog dalam karya ini

Halaman 1

  • Tragedi Malam Halloween
  • Menjelang Halloween saat aku masih kecil
  • Kali ini aku akan berkostum dengan sekuat tenaga.
  • Asiiik!!
  • Aku akan merobek sprei di rumah, mengolesinya dengan lipstik ibu, dan membuat jubah berdarah...!!
  • Eh... kamu pasti bakal dimarahi, lho.
  • Kan Halloween, jadi tidak apa-apa (logika aneh).

Halaman 2

  • Oke!! Sudah robek. Sekarang tinggal diolesi.
  • Asiiik, dengan ini aku bisa membuat corak darah...
  • Hari itu, kami pun menyadari...
  • Ah... Ibu...
  • ...bahwa manusia lebih menakutkan daripada hantu.
  • Lari, lewat jendela, lewat jendela!

Halaman 3

  • “Operasi” Ibu di Tengah Mengasuh Anak
  • Gawat, nih! Mimisanku keluar banyak sekali!
  • Waaahhh!! Ibuuu, aaaaah!!
  • Sudah tidak ada harapan! Ibu akan mati!
  • Bohong, 'kan?! Ibu mau mati?
  • Ibu janji akan mati!! Sekitar 10 detik lagi!!
  • Dalam 10 detik?!

Halaman 4

  • Sebelum mati, Ibu ingin kamu menyelesaikan PR untuk Ibu.
  • Aku kerjakan!!
  • Setelah itu, Ibu juga ingin kamu membersihkan kamar!!
  • Aku kerjakan!!
  • Kalau kamu juga merapikan meja, Ibu tidak akan punya penyesalan lagi.
  • Sudah kukerjakan.
  • Begitu, ya!! Kalau begitu, Ibu sudah sembuh!!
  • Aku sudah tertipu dengan cara ini sekitar 3 kali.
  • Udah sembuh!? Hore!!

Halaman 5

  • Kamarku di rumah orang tua ada kuncinya, tapi ada jendela kecil di atas pintu.
  • Ibuku kadang-kadang mengintip dari sana.
  • Nenek Sihir.
  • Jadi, aku menggantung kemeja bekas yang sudah tidak terpakai di pintu.
  • Oke... dengan ini...
  • Aku menjalankan operasi untuk menutup jendela kecil itu.

Halaman 6

  • Beberapa hari kemudian.
  • Fuh~ Capeknya.
  • Oke deh~ main eroge, ah~
  • U... Uwaah, uwaaaah!!
  • Nenek Sihir!!!
  • Sejak saat itu, aku menggunakan kemeja baru.

Halaman 7

  • Sebaiknya Lakukan XX Saat Bertengkar
  • Saat pertengkaran mulut akan dimulai...
  • Anak bodoh!!!
  • Berisik, Nenek Sihir!!!
  • Ah, tunggu!! Mulai sekarang kita bicara pakai bahasa Inggris!!
  • Hah?! O... Oke!! Ar... F*ck you!!

Halaman 8

  • Hey, you are fool!! You... die!! You destroy!! Go to... die!! Die!! Demon eat!!
  • Kill!! You die!! Very die!! You dead!! I'm God!! You... very dead!!
  • Jika saat bertengkar mulut kami sepakat untuk saling menggunakan bahasa Inggris...
  • Shut up, die!! You... pffft.
  • I'm your kill!! Fufufu...!!
  • ...hinaan itu entah kenapa berubah menjadi tawa dan bisa diselesaikan dengan damai.
  • Hanya berlaku untuk keluarga yang tidak pandai berbahasa Inggris.

Halaman 9

  • Akibat Terkena Penyakit Sok Keren
  • Sekitar semester dua kuliah, aku punya kebiasaan menggunakan kata-kata asing padahal tidak begitu paham artinya.
  • Komitmen!!
  • Keren banget!!
  • Ya, ini adalah sindrom chuunibyou tahap kedua... sebut saja Sindrom Mahasiswa Tahun Kedua.
  • Ibu, ngomong-ngomong, agenda kita selanjutnya tidak ada masalah, 'kan? Sudah bisa komitmen?
  • Apa itu? Adidas?
  • Hah~~ Nggak tahu? Kesadaranmu, rendah banget, ya~~?

Halaman 10

  • Keesokan harinya...
  • Capeknya... aku pulang~
  • Selamat datang!! Hari ini ada buffer, jadi berdasarkan flash idea, makan malamnya kita fiks kari, boleh?
  • Hah!? Apa...!?
  • Ibu juga belajar biar bisa mengimbangi 'kesadaran' kamu, tahu!!
  • Untuk assign fukujinzuke ke karinya, tidak ada issue khusus, 'kan? Kalau sudah ada konsensus, ASAP!!
  • Aku yang salah. Tolong kembali seperti semula.
  • ①Terjemahan bebas... Selamat datang. Hari ini ada waktu luang, jadi kepikiran untuk makan malam kari, boleh? ②Terjemahan bebas... Apa tidak masalah kalau karinya ditambah fukujinzuke? Kalau tidak masalah, aku akan segera membuatnya.

Halaman 11

  • Istirahat karena Kondisi Mental yang Buruk Bukanlah Bolos
  • Dulu aku lumayan sering tidak masuk sekolah.
  • Hmm... hari ini aku mau libur sekolah...
  • Ada apa!! Kalau soal buku erotis yang kutemukan kemarin, akan kuanggap tidak pernah melihatnya!!
  • Bunuh saja aku.
  • Nggak... sebenarnya aku sedikit salah saat presentasi di kelas... lalu aku diejek oleh teman-teman dan jadi agak sedih...
  • Begitu, ya!! Boleh istirahat!!
  • Eh?! Boleh bolos?!

Halaman 12

  • Apa yang kamu bicarakan!! Walaupun bukan karena pilek atau semacamnya, saat hatimu sakit itu sama saja dengan kondisi fisik yang buruk!!
  • Saat kamu mengalami hal yang menyakitkan, penting untuk mengistirahatkan hatimu di rumah!! Itu tidak bisa disebut bolos!!
  • Saat mengalami hal yang benar-benar menyakitkan, penting untuk beristirahat tanpa memaksakan diri.
  • Ah... terima kasih... kalau begitu aku akan santai-santai sambil main game...
  • Kamu akan mati dalam 5 detik!!
  • PR-nya juga akan kukerjakan.

Halaman 13

  • Jadi, berkat "cakupan bolos" ibuku yang tidak mencakup "saat hati sedang sakit", aku sering kali merasa sangat tertolong.
  • Kamu bolos sekolah buat main game online di warnet, 'kan?
  • Tapi kalau benar-benar bolos, aku akan dimarahi habis-habisan.
  • Aaaaaaaaaaaaaaah!

Halaman 14

  • Istirahat ≠ Bolos, 'kan?
  • Sejak kecil aku punya kebiasaan suka bolos.
  • PR-nya belum selesai, main game sebentar ah, wkwk.
  • Gyaaa, Ibuuu, tamat sudah, maaf, maaf, ampuni nyawaku...
  • ...PR-nya akan kamu selesaikan, 'kan? Kalau begitu, tidak apa-apa!
  • Eh?!

Halaman 15

  • Kalau kamu bisa menyelesaikannya dengan baik, bolos atau istirahat sejenak itu mirip-mirip saja, kok.
  • Istirahat, ya...
  • Bisa dianggap bolos, bisa juga dianggap istirahat.
  • Sebaliknya, manusia tidak mungkin bisa terus fokus! Kuncinya untuk hidup dengan baik adalah maju sambil sesekali bolos.
  • Tapi, bolos yang sampai merepotkan orang lain itu tidak boleh!
  • Hmm... tapi sulit untuk menentukan apakah bolos itu akan merepotkan orang lain atau tidak...
  • Benar juga... coba buka bekal untuk SMP besok ini.

Halaman 16

  • Ooh! Bekal andalan Ibu, isinya...
  • Inilah bolos yang merepotkan orang lain.
  • Aku... sangaaat mengerti.

Halaman 17

  • Akibat Dimintai Tolong Mengirim Kartu Tahun Baru
  • Suatu akhir tahun saat aku masih kecil.
  • Kalau kamu mau pergi mengirim kartu Tahun Baru, sekalian titip punya Ibu, ya.
  • Oke, serahkan padaku.
  • Lalu, tahun pun berganti, beberapa hari kemudian...
  • Loh... di dalam tasku...
  • ...ada sesuatu.
  • Kepada Mongolian Death Saburo.

Halaman 18

  • Gawattt!! Waktu itu aku cuma mengirim punyaku dan lupa mengirim punya Ibu.
  • Asyiknya menantikan surat balasan, ya.
  • Ini benar-benar gawat, gimana, ya, apa sebaiknya aku jujur saja?
  • Eh, Bu, seandainya aku lupa mengirim kartu Tahun Baru, gimana? Hahaha.
  • Yah, manusia 'kan bisa saja berbuat salah, jadi mau bagaimana lagi... akan Ibu kubur.
  • Nggak bisa bilang.

Halaman 19

  • Lalu Yashiro berpikir. Memeras otaknya yang kosong untuk mencari cara keluar dari situasi ini.
  • Dan beginilah, ia menemukan satu solusi.
  • Keesokan harinya...
  • Ibu... kartu Tahun Baru untuk Ibu sudah sampai, nih, lihat... hehehe...
  • Terima kasih, ya!! Wajahmu pucat banget.

Halaman 20

  • Heeh~ Tulisannya kok mirip semua, ya.
  • Yah, 'kan memang zamannya begitu.
  • Hidupmu akan berakhir bulan ini.
  • Maafkan aku.

Halaman 21

  • Ibu dan “Permainan Hoki” di Game Center
  • Karena aku anak tunggal, waktu kecil...
  • Tembok besi.
  • Teknik bertahan dari serangan lawan dengan terus menggerakkan tangan di depan gawang. Dibenci orang.
  • Curang, Nenek Sihir!
  • ...aku juga sering main di game center bersama ibuku.
  • Di tengah semua itu, ada satu game yang sempat membuatku sangat ketagihan.
  • Zombie shooting, The House of the Dead.
  • Aku juga beli versi Dreamcast-nya.

Halaman 22

  • Kami main berdua, tapi tentu saja aku yang sudah terbiasa main game lebih jago...
  • Ah, kena.
  • Ya, Ibu, game over.
  • Dan yang lebih parahnya, anak-anak adalah makhluk yang suka sekali mengejek di saat seperti ini.
  • Aah, masa di tempat begini saja sudah kalah, lemah banget~~
  • Lemahhh~~ payahhh~~ wkwkwk.

Halaman 23

  • Keesokan harinya setelah aku mengejeknya habis-habisan, kami kembali ke game center.
  • Oke, hari ini kita tembaki zombi lagi.
  • Boleh! Ayo main!
  • Tuh! Yang itu incar kepalanya.
  • Serahkan pada Ibu.
  • Ooh...? Hebat juga, lumayan jago.

Halaman 24

  • Ya, di situ tembak tuas yang kanan untuk ganti rute. Cepat tembak itu.
  • Eh... u, um...
  • Ya, tolong peneliti itu, nyawa +1.
  • O... orang ini...
  • Loh? Kenapa? Skormu rendah, ya.
  • Kamu agak lemah, ya? Hah?

Halaman 25

  • Cerita “Pura-Pura Sakit” Saat Masih Kecil
  • Sejak SD aku sering libur sekolah karena pura-pura sakit.
  • Tinggal dekatkan termometer ke pemanas... terus pura-pura demam, deh.
  • Yamauchi, si Jenius Pura-Pura Sakit
  • Kalau salah waktu saat menariknya, suhunya jadi demam tinggi dan malah ketahuan, ya...?
  • Uooh... hebat, Yamauchi...!!
  • Tapi karena aku terlalu sering pura-pura sakit, ibuku pun mulai mengambil tindakan.
  • Aah~ gawat, badanku nggak enak banget~ uhuk, rasanya mau mati, nih, uhuk.
  • Wajahku pucat banget. Gawat, Bu, hari ini aku libur sekolah, deh.
  • Ah... kamu...!!

Halaman 26

  • Kenapa wajahmu begitu...!! Penyakit parah... mati... kamu akan mati!!
  • Hah!?
  • Ini gawat!! Aku akan segera telepon pemadam kebakaran dan polisi!!
  • Po, polisi...!? Tunggu.
  • Halo, polisi? Anak saya sakit parah...
  • Hei, hei, hei, stop, tunggu, tunggu, tunggu, aku baik-baik saja, serius.
  • Karena kamu pura-pura sakit.
  • Aku tahu, kok!! Duduk bersimpuh di situ!!

Halaman 27

  • Cerita Saat Aku Kabur dari Rumah
  • Waktu kecil aku pernah kabur dari rumah.
  • Begitu, ya. Semangat!
  • Nggak tahan lagi, aku mau pergi dari rumah ini!
  • Dengar, ya!? Aku akan pergi dari rumah, lho!! Ya!?
  • Begitu, ya. Semangat!
  • Kamu tidak apa-apa...? Dia sudah pergi, lho...
  • Ah... Ibu, tenang saja.
  • Karena aku punya senjata rahasia...

Halaman 28

  • Beberapa jam kemudian, di sekitar rumah.
  • Sialan... aku tidak akan pernah pulang ke rumah...
  • ...Hm? Itu...
  • Ibu?!
  • Apa-apaan, datang sekarang. Aku tidak akan pernah kembali.
  • Katakan sesuatu, dong... hei... hei...!!

Halaman 29

  • Cinta pertama Yanagitani Tatsuyuki adalah... N-san.
  • !?
  • Aku tidak akan melepas kertas ini sampai kamu menangkapku, hohohoho.
  • Aaaaaaaah, Nenek Sihirrrrr!!!

Halaman 30

  • Cerita “Perang Perebutan Mandi” di Rumah
  • Dulu saat masih di rumah, urutan mandi sudah ditentukan, dimulai dari nenek.
  • Air mandinya sudah siap.
  • Asiiik, mandi pertama!
  • Hoi, bocah!
  • ...tapi, pada dasarnya aku tidak pernah menaatinya.
  • Aduh... gimana, ya, apa ada cara yang bagus...
  • Tidak ada cara lain selain menghentikan napasnya.
  • Tidak ada cara lain selain menghentikan napasnya.
  • Benar juga... pakai ponsel dengan fungsi rekam video ini...

Halaman 31

  • Beberapa hari kemudian.
  • Air mandinya sudah siap.
  • Horeee!! Mandi pertama jadi milikku!!
  • Oke, dapat. Bak mandinya paling enak... aduh, dingin!
  • Aaaaaaaaaaaaaah, ini bukan bak mandi, kenapa, aah!

Halaman 32

  • Kena kau!! Aku merekam suara air mandi siap di ponsel dan memutarnya dengan volume keras!!
  • Ayo, serahkan kamar mandinya!!
  • Sudah siap.
  • Sialan... awas kau...
  • Setelah itu, aku membalasnya dengan cara yang persis sama, dan seluruh keluarga jadi tidak bisa mempercayai suara mesin lagi.

Halaman 33

  • Orang Dewasa Tidak Selalu Benar
  • Masa Kecil
  • Apa yang dikatakan wali kelas dan guru olahraga benar-benar berbeda, aku jadi bingung sekali.
  • Begitu, ya!!
  • Pikirkan sendiri!!
  • Hah~!?
  • Orang dewasa itu bukan makhluk yang selalu benar, tahu!! Ibu juga pasti sering mengatakan hal yang salah!!
  • Contohnya, kemarin Ibu bilang bolpenmu rusak karena ulah hantu, tapi itu juga salah. Sebenarnya Ibu yang menginjaknya. Maaf.
  • Itu sih cuma bohong, 'kan.

Halaman 34

  • Makanya, jangan menelan mentah-mentah apa kata orang dewasa, tapi masukkan juga pemikiranmu sendiri untuk mengambil kesimpulan. Itulah maksud dari 'pikirkan sendiri'!!
  • Kalau sepertinya itu salah, Ibu juga akan bilang begitu. Sebaliknya, kalau sepertinya Ibu yang salah, akan sangat membantu kalau kamu bilang begitu.
  • O-oh, begitu... aku mengerti.
  • Kalau begitu!! Ibu bilang tidak boleh mencoret-coret dinding pakai lipstik, 'kan!!
  • Tapi kemarin aku bilang ke guru seni, dan dia bilang 'artistik, ya', jadi berarti ini perbuatan yang benar, dong.
  • Ibu yang benar! Keluar kau!!

Halaman 35

  • Cerita Saat Ibuku Seorang Penyihir
  • Kamarku di rumah ada kuncinya.
  • Oke...!!
  • Aku biasa menguncinya saat diam-diam main game tengah malam.
  • Kalau begitu, langsung saja main game...
  • Aaaaaaaaaah, Nenek Sihirrrrr!!!

Halaman 36

  • Kok bisa buka kuncinya?
  • Pakai sihir, dong!!
  • Sihir?!
  • Ibu ini penyihir, tahu!!
  • Kalau kamu takut sihir, mulai sekarang jangan kunci pintu lagi, ya!!
  • Soalnya nanti Ibu pakai sihir kematian!!
  • Hiiiiiiiii.
  • Padahal dia cuma membukanya paksa dengan kuku, tapi kupikir cara mendidiknya hebat juga.

Halaman 37

  • Cerita tentang Acara 'Pertemuan Orang Tua'
  • Waktu SD, setiap tahun ada rumah hantu di acara pertemuan orang tua.
  • Mati
  • Pemeran hantunya adalah para orang tua murid.
  • Kami yang bandel pernah menerobos masuk sebelum dibuka.
  • Hahaha-- Serbuuuu!
  • Hei, tunggu.

Halaman 38

  • Ooh... sepertinya akan ada sesuatu yang keluar...
  • Kira-kira kita bakal dimarahi nggak, ya...
  • Apa yang kalian lakukan!! Belum mulai, tahu!!
  • Aaaaaaaaaaaaaah, serammm!
  • Saat paling menakutkan di rumah hantu adalah ketika ibuku sendiri muncul dalam wujud aslinya.

Halaman 39

  • Cerita Saat Aku Pindah dari Rumah
  • Setelah pindah dari rumah, aku video call dengan ibuku.
  • Makan sayur yang benar, ya!!
  • Selalu sedia obat!! Dan selalu siapkan senjata di samping bantalmu!!
  • Se... senjata...? Kenapa...?
  • Bagaimanapun juga, orang tua tetaplah orang tua, ya...

Halaman 40

  • Oh ya, semua doujinshi erotis yang ada di kamarmu itu...
  • ...Ibu berencana mengirimkannya ke kerabat kita, Yasu-chan. Tidak apa-apa, 'kan!!
  • Jelas nggak baik-baik saja!! Hentikan!!
  • Ibu sudah dapat izin dari Yasu-chan, lho!!
  • Bohong, 'kan, Yasu-chan!? ※Ternyata bohong.

Halaman 41

  • Perang Sembunyi Game Antara Aku dan Ibu
  • Waktu kecil, saat aku mencoba main game diam-diam.
  • PR-nya belum selesai, sih, tapi pengin main Mario sebentar...
  • Kalau mainnya diam-diam nggak apa-apa, lah... hehe...
  • Ah... sial, kabel power-nya nggak ada.
  • Dasar Ibu... dia sudah menduga ini dan menyembunyikannya, sialan!

Halaman 42

  • Tapi biasanya, saat seperti ini, ada di atas gudang...
  • Uraaah, ketemu! Sini kauu!
  • Ah... sial, sekarang 'itu'-nya yang nggak ada... 'itu', lho.
  • Yang tiga kabel itu, lho, yang merah, putih, sama kuning.
  • Yang buat nyambungin ke TV itu... yang merah, putih, kuning... apa, ya, namanya, aku nggak tahu.

Halaman 43

  • 30 menit kemudian
  • Hah... akhirnya ketemu juga yang tiga kabel itu... capeknya.
  • Hmm... terus 'itu' lagi... kasetnya... di mana kasetnya...
  • Di sini, lho.
  • Ah, Ibu.

Halaman 44

  • Nah, sekarang mau kujual ke toko game, ah.
  • Karena aku melakukan ini setiap saat, aku jadi lumayan kurus.

Halaman 45

  • Cara Menghentikan Tangisan Anak
  • Waktu kecil, saat aku menangis meraung-raung.
  • Aaaaaah, mau ke Toys 'R' Us! Aaaaaah!
  • Hello Mac!!
  • Toys 'R' Us
  • Tindakan yang kadang dilakukan ibu selain mencoba menenangkanku.
  • Dia ikut menangis.
  • Aaaaaah!! Aaaaaah!! Gyaaa!!
  • Waaah!!

Halaman 46

  • Ibu juga sudah capek, aaan! Dari pagi sampai malam siapkan makanan keluarga, bersih-bersih rumah, aah, gyaaaan!
  • Ditambah lagi anaknya nangis, sudah benar-benar gyaaaan!
  • Dengan melakukan ini,
  • Apa-apaan orang ini... seram... jangan dekat-dekat, ah...
  • Aku punya kenangan di mana aku menjadi tenang dan berhenti menangis.

Halaman 47

  • Tetapi!! Ini hanya contoh kasusku, tidak berarti semua orang akan berhenti menangis, dan ada juga saatnya aku tidak berhenti menangis!!
  • Papa pulang~~
  • Dan inilah yang terjadi saat aku tidak berhenti menangis...
  • Aaaaaaaaaah, gyaaaaaah, sudah nggak tahan lagiiii!!
  • Aaaaaaaaaah, Toys 'R' Us, aaaaaaaah, Tamagotchi, iiiih!

Halaman 48

  • Ayahku dulu bilang, aku dan ibu menangis meraung-raung sampai kelelahan, dan rumah jadi seperti kebun binatang.
  • Papa makan di luar sebentar, ya.
  • ◆BERISIKO!!!!