Deskripsi karya
教科書には載らないあの子達のこと、授業では教えてくれない不完全な愛の話。
Dialog dalam karya ini
Halaman 1
- Pelajaran ke-20
- "Bitter Dream"
Halaman 2
- Lagian, apa-apaan 'Pangeran' itu...
- Mana ada, sih? (tertawa)
- Memang ada...
- Justru kau yang tidak tahu?
- Postur tubuhnya yang tinggi, dan refleks atletisnya yang luar biasa yang memanfaatkan kelebihannya itu.
- Dia itu jagoannya Jurusan Olahraga yang isinya monster semua, lho. Justru aneh kalau dia tidak menonjol.
- Entah dia pura-pura keren atau tidak, tapi sisi seperti itu juga disukai para gadis, kan? Yah, sepertinya dia juga cukup baik pada para gadis.
- ...
- Baik pada para gadis?
- Dia itu cuma gugup saja, kok. Aku yakin dia tidak pandai berhadapan dengan perempuan.
Halaman 3
- Tidak pandai berhadapan dengan perempuan? Si Pangeran? (tertawa)
- Padahal dia punya pacar, kan.
- ...Oh ya?
- Begitu, ya.
- Apa, apa, apa?!
- Kau juga tidak tahu soal itu?!
- Namanya Yuuki-chan! Kita sekelas dengannya waktu kelas satu, kan!!
- Lagian, kenapa
- kau tidak pernah membawanya ke rumah?
- Tidak...
- Aku pernah bertemu dengannya,
- sekali...
- Kukira hubungan mereka masih berlanjut.
- ......
- Haha...
- Apa...
- Nagi-kun, jangan-jangan kau ini Brocon?
Halaman 4
- Semoga dia tidak bersikap kasar padanya...
- Permisi...
- Siapa?
- Ah...
- A-aku...
- Tidak penting siapa dia.
- Ini bukan urusanmu.
- Sudah,
- ayo.
Halaman 5
- Ah,
- t-tapi...!
- Anu!
- Kau Nagi-kun... kan! Kita sekelas...
- Ini...!
- Aku bawa kue... kalau kau tidak keberatan...
- Hei.
- Kau juga tidak akan tahan, kok.
- Kalau kau tahu soal Iruka, kau pasti ingin menjauh.
Halaman 6
- Ah.
- Lagipula, aku tidak suka yang manis-manis.
- Makan saja sendiri, ya.
- Nanti aku bawakan teh.
- Silakan bersantai.
- Ah...
- B-begitu, ya...
- Maaf...
Halaman 7
- ......
- Aku tidak melakukannya.
- Begini, ya...
- Jangan keterlaluan pada perempuan...
- Aku tidak mengganggunya, kok. Jangan sembarangan.
- Aku hanya tidak ingin Iruka bersedih lagi.
- Padahal kau tidak tahu sebanyak aku, beraninya kau bicara begitu.
Halaman 8
- Aku tidak bermaksud ikut campur urusan keluarga orang lain, tapi...
- Kalau dia memang sepenting itu bagimu, perhatikan dia lebih baik lagi!
- ......
- Orang tuaku...
- ...sangat overprotektif.
Halaman 9
- Overprotektif, pencemas, dan sangat memanjakanku.
- Sejak lahir, aku selalu disayangi setengah mati.
- Tapi...
- ...aku sangat benci dengan semua itu.
- Aku ingin diperlakukan apa adanya,
- ...dan aku ingin dimarahi dengan benar saat melakukan kesalahan.
- Perhatian dari orang lain itu memang menyenangkan, sih,
- tapi bukan berarti hanya berisi hal-hal yang manis saja.
Halaman 10
- Pada akhirnya, yang namanya cinta itu hanyalah ego.
- Terlebih lagi jika itu adalah cinta dari keluarga.
- Cinta yang tidak memberikan ruang untuk lari hanya akan menjadi racun.
- 'Demi dirimu'
- 'Memikirkanmu'
- 'Kau cukup jadi dirimu sendiri'
- 'Kau tidak perlu khawatir'
- 'Kau tidak perlu berusaha keras'
- 'Biar aku yang urus semuanya'
- Semua itu...
- ...sama saja dengan ketidakpedulian.
Halaman 11
- 'Demi Seseorang' adalah kata-kata yang paling kubenci.
- Karena itu, setelah melihat sikapmu, aku tidak mau hanya diam dan bilang 'oh, begitu'.
- ...Lagipula, kau itu terlalu kudet.
- Tidak mudah terpengaruh gosip itu hal yang bagus, kok. Aku suka sisimu yang seperti itu, Nagi.
- Tapi itu karena kau memang tidak tertarik pada orang lain, kan?
- Karena tidak tertarik, makanya kau tidak memperhatikan sekitarmu. Kau bahkan tidak mencoba untuk melihat, karena itu kau tidak tahu apa-apa.
Halaman 12
- Aku juga tidak mengerti soal masalahmu atau hal-hal rumit lainnya,
- dan aku tahu ini bukan sesuatu yang bisa dicampuri orang lain.
- ...Tapi,
- tapi kalau kau memang benar-benar memikirkan Iruka,
- kalau kau tidak ingin membuatnya bersedih,
- aku ingin membantumu.
- Apa yang akan kukatakan sekarang, kalau kau merasa terganggu, abaikan saja. Cukup dengarkan sebagai suara saja.
- Aku hanya tidak ingin menyesal karena tidak mengatakannya saat itu.
Halaman 13
- Sebelum kau hanya membayangkan,
- sebelum kau membuat kesalahan,
- Lihat,
- Dengar,
- Bicara,
- Pahami.
- Sebaiknya kau coba hadapi dia sekali lagi dengan lebih serius.
- Begitulah,
- menurutku.
- Aku hanya tidak ingin kau membuat kesalahan. Itu saja.
- Aku tidak akan memaksa.
- Kalau kau bilang kesalahan juga bagian dari pengalaman, ya sudah.
- Aku... tidak, siapa pun di dunia ini tidak punya hak untuk menyalahkanmu.
Halaman 14
- ...Apa-apaan ini, tiba-tiba menceramahiku?
- Padahal kau sendiri bahkan tidak tahu kalau aku dan Iruka itu kakak-beradik.
- Itu karena kau!
- ......
- ...Bukan,
- bukan apa-apa...
- ...Gimana, ya, begini...
- Kalian kan tidak mirip...
- Apa?
- Tidak perlu disembunyikan juga, tidak apa-apa...
- Itu...
- Orangnya sendiri yang bilang, lho.
- Mereka berdua itu kakak-beradik.
- ...begitu.
Halaman 15
- ...
- Oh, begitu.
- Sudah jadi rahasia umum kalau Aiba-kun dan Iruka-kun itu kakak beradik, lho.
- Kau mungkin tidak tahu, tapi Aiba-kun juga cukup terkenal di sekolah, setara dengan Iruka-kun.
- Aiba juga? Kenapa?
- Pakai tanya kenapa lagi...
- Kau tidak pernah lihat hasil peringkat teratas ujian?
- Peringkat Umum Angkatan, selalu nomor satu.
- Bahkan mengalahkan Kelas Unggulan.
Halaman 16
- Dan yang lebih hebatnya lagi, dia bisa dapat peringkat itu sambil main-main seperti biasa, kan? Anak itu.
- Rasanya seperti beda dimensi... Orang seperti dialah yang disebut jenius.
- Dan lagi, dia sangat tampan!
- Ramah, baik hati... benar-benar terasa sempurna.
- Aku sih, lumayan suka Aiba-kun.
- Yah, kadang mental kena juga sih melihat perbedaan bakat seperti itu.
- Tapi kalau sudah sejauh ini, rasanya seperti di dimensi lain, jadi belakangan ini aku tidak merasakan apa-apa lagi. Bahkan tidak bisa membencinya...
Halaman 17
- Yah, begitulah. Dua orang seperti mereka adalah kakak-beradik, jadi mau tidak mau pasti jadi bahan pembicaraan.
- Aku tidak tahu kenapa kau sampai berbohong seperti itu,
- Intinya, kau tidak ingin dianggap sebagai keluarga, kan?
- ...Tapi,
- menurutku, mungkin lebih baik bagimu jika semuanya tetap seperti ini.
Halaman 18
- Soalnya, kalau aku harus dibandingkan dengan mereka berdua, rasanya seperti di neraka.
Komentar
0