沈む朝、昇る夜。
第3話 ビター・ドリーム
22
Tanggal posting: 2026.06.20

Deskripsi karya

教科書には載らないあの子達のこと、授業では教えてくれない不完全な愛の話。

Komentar

0

Dialog dalam karya ini

Halaman 1

  • Pelajaran ke-20
  • "Bitter Dream"

Halaman 2

  • Lagian, apa-apaan 'Pangeran' itu...
  • Mana ada, sih? (tertawa)
  • Memang ada...
  • Justru kau yang tidak tahu?
  • Postur tubuhnya yang tinggi, dan refleks atletisnya yang luar biasa yang memanfaatkan kelebihannya itu.
  • Dia itu jagoannya Jurusan Olahraga yang isinya monster semua, lho. Justru aneh kalau dia tidak menonjol.
  • Entah dia pura-pura keren atau tidak, tapi sisi seperti itu juga disukai para gadis, kan? Yah, sepertinya dia juga cukup baik pada para gadis.
  • ...
  • Baik pada para gadis?
  • Dia itu cuma gugup saja, kok. Aku yakin dia tidak pandai berhadapan dengan perempuan.

Halaman 3

  • Tidak pandai berhadapan dengan perempuan? Si Pangeran? (tertawa)
  • Padahal dia punya pacar, kan.
  • ...Oh ya?
  • Begitu, ya.
  • Apa, apa, apa?!
  • Kau juga tidak tahu soal itu?!
  • Namanya Yuuki-chan! Kita sekelas dengannya waktu kelas satu, kan!!
  • Lagian, kenapa
  • kau tidak pernah membawanya ke rumah?
  • Tidak...
  • Aku pernah bertemu dengannya,
  • sekali...
  • Kukira hubungan mereka masih berlanjut.
  • ......
  • Haha...
  • Apa...
  • Nagi-kun, jangan-jangan kau ini Brocon?

Halaman 4

  • Semoga dia tidak bersikap kasar padanya...
  • Permisi...
  • Siapa?
  • Ah...
  • A-aku...
  • Tidak penting siapa dia.
  • Ini bukan urusanmu.
  • Sudah,
  • ayo.

Halaman 5

  • Ah,
  • t-tapi...!
  • Anu!
  • Kau Nagi-kun... kan! Kita sekelas...
  • Ini...!
  • Aku bawa kue... kalau kau tidak keberatan...
  • Hei.
  • Kau juga tidak akan tahan, kok.
  • Kalau kau tahu soal Iruka, kau pasti ingin menjauh.

Halaman 6

  • Ah.
  • Lagipula, aku tidak suka yang manis-manis.
  • Makan saja sendiri, ya.
  • Nanti aku bawakan teh.
  • Silakan bersantai.
  • Ah...
  • B-begitu, ya...
  • Maaf...

Halaman 7

  • ......
  • Aku tidak melakukannya.
  • Begini, ya...
  • Jangan keterlaluan pada perempuan...
  • Aku tidak mengganggunya, kok. Jangan sembarangan.
  • Aku hanya tidak ingin Iruka bersedih lagi.
  • Padahal kau tidak tahu sebanyak aku, beraninya kau bicara begitu.

Halaman 8

  • Aku tidak bermaksud ikut campur urusan keluarga orang lain, tapi...
  • Kalau dia memang sepenting itu bagimu, perhatikan dia lebih baik lagi!
  • ......
  • Orang tuaku...
  • ...sangat overprotektif.

Halaman 9

  • Overprotektif, pencemas, dan sangat memanjakanku.
  • Sejak lahir, aku selalu disayangi setengah mati.
  • Tapi...
  • ...aku sangat benci dengan semua itu.
  • Aku ingin diperlakukan apa adanya,
  • ...dan aku ingin dimarahi dengan benar saat melakukan kesalahan.
  • Perhatian dari orang lain itu memang menyenangkan, sih,
  • tapi bukan berarti hanya berisi hal-hal yang manis saja.

Halaman 10

  • Pada akhirnya, yang namanya cinta itu hanyalah ego.
  • Terlebih lagi jika itu adalah cinta dari keluarga.
  • Cinta yang tidak memberikan ruang untuk lari hanya akan menjadi racun.
  • 'Demi dirimu'
  • 'Memikirkanmu'
  • 'Kau cukup jadi dirimu sendiri'
  • 'Kau tidak perlu khawatir'
  • 'Kau tidak perlu berusaha keras'
  • 'Biar aku yang urus semuanya'
  • Semua itu...
  • ...sama saja dengan ketidakpedulian.

Halaman 11

  • 'Demi Seseorang' adalah kata-kata yang paling kubenci.
  • Karena itu, setelah melihat sikapmu, aku tidak mau hanya diam dan bilang 'oh, begitu'.
  • ...Lagipula, kau itu terlalu kudet.
  • Tidak mudah terpengaruh gosip itu hal yang bagus, kok. Aku suka sisimu yang seperti itu, Nagi.
  • Tapi itu karena kau memang tidak tertarik pada orang lain, kan?
  • Karena tidak tertarik, makanya kau tidak memperhatikan sekitarmu. Kau bahkan tidak mencoba untuk melihat, karena itu kau tidak tahu apa-apa.

Halaman 12

  • Aku juga tidak mengerti soal masalahmu atau hal-hal rumit lainnya,
  • dan aku tahu ini bukan sesuatu yang bisa dicampuri orang lain.
  • ...Tapi,
  • tapi kalau kau memang benar-benar memikirkan Iruka,
  • kalau kau tidak ingin membuatnya bersedih,
  • aku ingin membantumu.
  • Apa yang akan kukatakan sekarang, kalau kau merasa terganggu, abaikan saja. Cukup dengarkan sebagai suara saja.
  • Aku hanya tidak ingin menyesal karena tidak mengatakannya saat itu.

Halaman 13

  • Sebelum kau hanya membayangkan,
  • sebelum kau membuat kesalahan,
  • Lihat,
  • Dengar,
  • Bicara,
  • Pahami.
  • Sebaiknya kau coba hadapi dia sekali lagi dengan lebih serius.
  • Begitulah,
  • menurutku.
  • Aku hanya tidak ingin kau membuat kesalahan. Itu saja.
  • Aku tidak akan memaksa.
  • Kalau kau bilang kesalahan juga bagian dari pengalaman, ya sudah.
  • Aku... tidak, siapa pun di dunia ini tidak punya hak untuk menyalahkanmu.

Halaman 14

  • ...Apa-apaan ini, tiba-tiba menceramahiku?
  • Padahal kau sendiri bahkan tidak tahu kalau aku dan Iruka itu kakak-beradik.
  • Itu karena kau!
  • ......
  • ...Bukan,
  • bukan apa-apa...
  • ...Gimana, ya, begini...
  • Kalian kan tidak mirip...
  • Apa?
  • Tidak perlu disembunyikan juga, tidak apa-apa...
  • Itu...
  • Orangnya sendiri yang bilang, lho.
  • Mereka berdua itu kakak-beradik.
  • ...begitu.

Halaman 15

  • ...
  • Oh, begitu.
  • Sudah jadi rahasia umum kalau Aiba-kun dan Iruka-kun itu kakak beradik, lho.
  • Kau mungkin tidak tahu, tapi Aiba-kun juga cukup terkenal di sekolah, setara dengan Iruka-kun.
  • Aiba juga? Kenapa?
  • Pakai tanya kenapa lagi...
  • Kau tidak pernah lihat hasil peringkat teratas ujian?
  • Peringkat Umum Angkatan, selalu nomor satu.
  • Bahkan mengalahkan Kelas Unggulan.

Halaman 16

  • Dan yang lebih hebatnya lagi, dia bisa dapat peringkat itu sambil main-main seperti biasa, kan? Anak itu.
  • Rasanya seperti beda dimensi... Orang seperti dialah yang disebut jenius.
  • Dan lagi, dia sangat tampan!
  • Ramah, baik hati... benar-benar terasa sempurna.
  • Aku sih, lumayan suka Aiba-kun.
  • Yah, kadang mental kena juga sih melihat perbedaan bakat seperti itu.
  • Tapi kalau sudah sejauh ini, rasanya seperti di dimensi lain, jadi belakangan ini aku tidak merasakan apa-apa lagi. Bahkan tidak bisa membencinya...

Halaman 17

  • Yah, begitulah. Dua orang seperti mereka adalah kakak-beradik, jadi mau tidak mau pasti jadi bahan pembicaraan.
  • Aku tidak tahu kenapa kau sampai berbohong seperti itu,
  • Intinya, kau tidak ingin dianggap sebagai keluarga, kan?
  • ...Tapi,
  • menurutku, mungkin lebih baik bagimu jika semuanya tetap seperti ini.

Halaman 18

  • Soalnya, kalau aku harus dibandingkan dengan mereka berdua, rasanya seperti di neraka.