Deskripsi karya
Dialog dalam karya ini
Halaman 1
- Ayah disuruh memakai celana di tempat kerja paruh waktunya, jadi kami datang untuk membeli pakaian kerja.
- Wah, bagus! Aku juga lebih suka gaya seperti itu daripada celana pendek.
- Sebenarnya yang itu juga nyaman dipakai, tapi...
- Hmm, kalau ini si Gonda pasti tidak akan protes.
- Gonda itu orang di tempat kerja, ya?
- Iya, dia manajer. Orangnya baik, meski agak lemah lembut.
- Kamu panggil manajer dengan nama aja!? Posisi apa sih yang kamu punya!?
Halaman 2
- Eh, apa!? Apa yang sedang kamu lakukan!?
- Ah, aku disarankan terus oleh pegawainya.
- Ah... Tatsuya... bagaimana menurutmu ini?
- Benar juga ya... memang tidak cocok buatku.
- Yah... sebenarnya tidak terlalu buruk sih...
- Oh?
- Aduh, otakku jadi kacau!
Halaman 3
- Teman sekelas naksir ayahku, ini bikin repot...
- Sebenarnya aku sudah dapat kontak anak itu.
- Iya, aku tahu.
- Ternyata dia punya anak.
- Waktu aku ajak kencan, dia bilang boleh asal anaknya ikut.
- Oh... begitu ya.
- Hah?
- Aku sudah memutuskan... aku ingin mendukung anak itu.
- Yah, itu sebenarnya aku sih...
- Hah!?
Halaman 4
- Tatsuya, akhir pekan ini kita makan bertiga dengan teman sekelasmu.
- Ternyata serius...
- Waktu kutanya mau ke mana, dia bilang ingin ke kebun binatang.
- Katanya dia ingin melihat jerapah bersamamu.
- Dia sangat mengkhawatirkanmu.
- Dia bilang ingin melihat senyummu, orangnya baik.
- Yuki... perhatian yang menyedihkan...
- Iya, benar.
- Entah kenapa ini jadi lucu juga...
Halaman 5
- Bento ini terlalu asin! Minta uang kembali!!
- Dan teh ini juga hangat, kembalikan juga uangnya.
- Eh... ah... ma... maafkan kami.
- Eh, anu...
- Hei, jangan lambat! Bikin pelanggan nunggu, panggil manajermu!!
- Sa... saya manajernya.
- Gonda, biar aku yang tangani.
Halaman 6
- Maafkan saya.
- Saya kesal karena pekerjaan tidak berjalan lancar.
- Saya mengerti, terkadang kita memang terkena musibah yang tidak bisa dihindari.
- Saat seperti itu, menjauhlah dari situ, lakukan mundur teratur.
- Gunakan waktu itu untuk membaca buku, ada perpustakaan di belakang stasiun.
- Tapi pekerjaannya...
- Ambil cuti saja, perusahaan yang tidak bisa jalan tanpamu pasti akan bangkrut juga.
- Baik! Terima kasih banyak.
- Hojo-san keren! Entah bagaimana... seperti seorang atasan!!
Halaman 7
- Karena ajakan teman sekelas, aku dan ayah akhirnya pergi bertiga ke kebun binatang.
- Apa aku benar-benar perlu ikut?
- Apa yang akan Yuki katakan nanti ya?
- Wah, sudah lama sekali sejak terakhir kali ke kebun binatang, mungkin saat masih SD.
- Ternyata datang lagi ke sini rasanya menyegarkan!
- Lihat, Tatsuya, ada penguin di sana!
- Hei, jangan terlalu bersemangat, nanti dikira pasangan yang lagi kencan.
Halaman 8
- Sadar juga, aku belum pernah membawamu ke sini ya.
- Hah? Ah, ya, tidak apa-apa kok.
- Toh, dulu ibu sering mengajakku ke sini.
- Dulu kupikir yang terbaik adalah fokus mencari nafkah untuk keluarga...
- Tapi setelah lebih banyak waktu bersamamu,
- Aku merasa seharusnya lebih sering meluangkan waktu seperti ini. Aku juga masih belajar.
- A... Ayah?
- Kupikir dia tipe yang tidak akan mengakui kesalahannya.
Halaman 9
- Pesan dari teman sekelas yang ingin berkencan dengan ayah datang dengan nada putus asa.
- Gimana nih, Tatsuya... Aku ketiduran.
- Kemarin malam tidak bisa tidur.
- Rasanya sudah tamat, ingin mati rasanya.
- Ayah, Yuki katanya ketiduran.
- Kelihatannya dia sangat tertekan.
- Tunggu! Yuki, jangan gegabah.
- Bisa nggak kita bilang kalau aku juga ketiduran dan telat?
- Kenapa? Kok perhatianmu aneh begitu.
- Tapi tidak masalah.
- Anak muda zaman sekarang memang banyak tantangannya ya.
Halaman 10
- Syukurlah...(ノA`). Anakmu juga katanya telat bangun!
- Yuki mengirimkan hadiah kopi dan susu stroberi.
- Terima kasih kepada anakmu!! Kalau ketemu, ingin kupeluk dan cium rasanya (>_<)
- Katanya kalau sudah sampai duluan, minum berdua sambil menunggu.
- Sebaiknya jangan lakukan itu...
- Tapi kenapa susu stroberi?
- Ah... ya, belakangan ini aku suka banget.
- Sial, harus bagaimana aku...
Halaman 11
- Teman sekelas akhirnya datang untuk 'kencan' dengan ayah.
- Maaf banget aku terlambat!!
- Tidak apa-apa, jadi bisa lebih santai dengan anakku.
- Tidak, tidak! Eh, anakmu mana?
- Dia sedang ke toilet.
- Wah, sudah bisa pergi sendiri ya! Hebat!
- Hahaha! Kamu memang lucu.
- Beneran? Senangnya.
Halaman 12
- Tatsuya, anak ini siapa?
- Mungkin dia tersesat. Dia menangis di toilet...
- Eh, maksudmu...
- Oh, jadi begitu ceritanya...
- ...Oh, begitu ya.
- Tunggu!! Ini agak rumit dijelaskan, ada banyak kesalahpahaman...!!
- Aku mengerti... di sekolah juga harus disembunyikan, kan...
- Tapi aku berharap kamu memberitahuku.
- Yuki!!
Halaman 13
- Untuk mengurai kesalahpahaman yang rumit ini, aku mengejar teman sekelasku.
- Tunggu, Yuki, anak itu sama sekali tidak ada hubungannya.
- Ada hal mendasar yang kamu salah paham...
- Sebenarnya aku seharusnya memberitahumu sebelum ini terjadi.
- Tapi melihat kamu begitu serius, aku jadi tidak bisa mengatakannya.
- Aku sendiri masih bingung dengan semua ini.
- Tapi aku harus memberitahumu sebelum hubungan ini berlanjut.
- Tatsuya?
Halaman 14
- Kamu... jangan-jangan kamu menyukaiku?
- Hah?
- Aku merasa ada yang aneh akhir-akhir ini, kamu kelihatan gugup saat bersamaku.
- Jadi itu sebabnya, Tatsuya...
- Aku pikir kamu canggung kalau soal Yuki, jadi masuk akal.
- Tunggu... bukan begitu. Orang ini terlihat seperti perempuan, tapi sebenarnya dia ayahku.
- Tatsuya... tenangkan dirimu dulu.
- Apa? Tidak, ini benar-benar nyata!
Halaman 15
- Ketika aku mencoba menjelaskan kesalahpahaman teman sekelasku tentang ayah, aku malah berakhir di situasi yang tak terduga...
- Mengunjungi kebun binatang dengan Yuki menyenangkan sekali.
- Ah... iya.
- Tidak, itu seperti neraka.
Halaman 16
- Dengar... hanya ingin memastikan kamu tahu bahwa ini semua kesalahpahaman dengan Yuki.
- Ya, Tatsuya... Aku orang yang agak kuno.
- Tapi belakangan ini, pemikiranku mulai terbuka dalam banyak hal.
- Jangan khawatir.
- Aku akan mendukungmu sebagai orang tua, apapun pilihan cintamu.
- Waaaah...
Komentar
0